Nadine Chandrawinata

Kompas.com - 11/04/2010, 04:24 WIB

Ember kosong mencuri tenang dari tidurku

Lagi-lagi, bingkai mimpi kehilangan satu sudut

Percuma aku bangun, yang kulihat hanya bumi menangis sendu...

Itulah sepenggal bait puisi berjudul ”Krisis Air” yang ditulis sendiri oleh Nadine Chandrawinata (25). Puteri Indonesia 2005 itu menulisnya khusus untuk penampilan dalam konser Live Earth di arena Garuda Wisnu Kencana, Bali, Minggu, 18 April, mendatang. ”Aku akan tampil bareng Slank dan beberapa artis lain,” tutur Nadine, yang tiba di Jakarta dari Nepal, Jumat (9/4) malam.

Dalam rangkaian konser global untuk menggugah kesadaran akan perubahan iklim dan hilangnya sumber air bersih itu, Bimbim dan Kaka dari Slank membuat lagu ”Krisis Air”. Lagu itu dibawakan dengan melibatkan artis pendukung konser Live Earth di Bali, seperti Dwiki Dharmawan, DJ Anton, Nugie, Sherina, dan Nadine.

”Aku dapat bagian membacakan puisi di tengah-tengah lagu itu. Aku diberi kebebasan sama Bimbim untuk membuat puisi yang sesuai dengan isi lagu,” tutur gadis kelahiran Hannover, Jerman, 8 Mei 1984, ini.

Puisi itu adalah bentuk sumbangsih Nadine bagi gerakan penyadaran masyarakat akan masalah pemanasan global. ”Ini masalah nyata, semua orang harus menyumbangkan apa yang bisa disuarakan. Aku menyumbangkan puisi ini,” ujarnya.(DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau