Lewat Budaya, Tingkatkan Pembelajar Bahasa Indonesia di Australia

Kompas.com - 11/04/2010, 06:59 WIB

Laporan Wartawan Kompas Yurnaldi dari Melbourne

MELBOURNE, KOMPAS.com - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Melbourne, Australia, terus melakukan berbagai upaya untuk memasyarakatkan dan meningkatkan pembelajar bahasa Indonesia. Karena sejak beberapa tahun terakhir, minat pelajar dalam mempelajari bahasa Indonesia cenderung menurun.

"Lewat budaya, KJRI Melbourne menawarkan program school excursion workshop gamelan, yang diselenggarakan setiap Senin. Guru-guru membawa anak didiknya belajar gamelan sekaligus belajar bahasa Indonesia," kata Konsul Jenderal RI Budiarman Bahar, Minggu (11/4/2010) di Melbourne, Australia.

Menurut data, pengajaran bahasa Indonesia mengalami penurunan cukup drastis, terhitung dari tahun 2002 sampai 2008. Di Victoria, pelajar yang mempelajari bahasa Indonesia pernah mencapai sekitar 106 ribu pelajar.

Kemudian dari tahun ke tahun ters berkurang, dan saat ini terdapat sekitar 75 ribu pelajar yang belajar bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Budiarman menjelaskan, untuk mempertahankan pengajaran bahasa Indonesia, KJRI tahun 2009 mengundang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk melakukan lawatan seni dan budaya di Melbourne, Victoria terutama di sekolah-sekolah di Victoria yang mengajarkan bahasa Indonesia, sekaligus tampil di acara Festival Indonesia 2009 di Melbourne.

"Dari data Department of Education and Early Chilhood-LOTE programs, tercatat penurunan sekitar 33 persen, dari 106.284 di tahun 2002, menurun menjadi 71.528 di tahun 2007. Penurunan disebabkan travel advisory Pemerintah Australia, yang memberi peringatan khusus antara lain kepada sekolah-sekolah yang ingin berkunjung ke Indonesia," jelasnya.

Selain itu, lanjut Konjen Budiarman, juga karena kasus terorisme di Indonesia yang mempengaruhi pandangan orangtua untuk mengizinkan anaknya melakukan study tour atau kunjungan sister school ke Indonesia terrmasuk pemotongan anggaran federal untuk mengajaran bahasa di sekolah-sekolah pada era pemerintahan John Howard.

Guru bahasa Indonesia di Cathedral College, Williams, mengatakan, berkurangnya minat pelajar Victoria mempelajari bahasa Indonesia selain travel advisory juga faktor latar belakang akar budaya sehingga pelajar cenderung memilih bahasa Jerman sebagai pilihan, selain bahasa Inggris.

"Juga minat belajar bahasa Indonesia dipengaruhi penilaian pelajar yang mengatakan pelajaran bahasa kurang bermanfaat," katanya. Menurut Budiarman, selain gamelan workshop, untuk menekan penurunan minat belajar bahasa Indonesia tersebut, KJRI melakukan berbagai upaya, antara lain kunjungan ke sekolah, lomba bahasa Indonesia, penghargaan murid berprestasi dalam bahasa Indonesia, dan partisipasi pada upacara bendera HUT RI di Melbourne maupun Canberra.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau