Rupiah Kembali Bertaji, Berapa Lama?

Kompas.com - 12/04/2010, 09:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada awal tahun 2010, secara rata-rata mata uang di Asia cukup perkasa, termasuk rupiah.  Untuk bulan Maret saja, rata-rata rupiah menguat 1,9 persen, di tengah-tengah penguatan dollar AS terhadap mata uang utama dunia (G6) yang naik 0,6 persen.

Keperkasaan rupiah tersebut dinilai Ekonom Bank Danamon Anton Hendranata, mengandung risiko, karena lebih banyak ditopang oleh kuatnya arus aliran dana jangka pendek ke perekonomian domestik.

"Jika kita tengok di pasar saham, tren naiknya harga saham Indonesia sangat menakjubkan, namun agar mengkuatirkan karena potensi risikonya sangat tinggi. Kenaikan harga saham Indonesia sangat cepat, bahkan terlalu cepat dibandingkan dengan negara-negara di Asia, sekalipun terhadap Cina yang merupakan motor penggerak perekonomian global," sebutnya.

Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia per tanggal 7 April 2010 mencapai 2.898, telah melewati indeks pada saat perekonomian menggelembung (bubble) pada tanggal 9 Januari 2008 sebesar 2.830, yang akhirnya jatuh pada level 1.111 pada tanggal 28 Oktober 2008.

"Tingginya price earning ratio saham di Indonesia yang telah mencapai nilai 20 akhir-akhir ini, membuat kita harus waspada karena harga saham di Indonesia sudah cukup mahal. Sangat sulit menjelaskan bahwa kenaikan harga saham, faktor utamanya karena kinerja yang luar biasa dari para emiten di pasar bursa," ungkapnya.

Pemicu naik tajamnya harga saham, lanjut dia, lebih disebabkan oleh kenaikan harga komoditas dunia yang melonjak tajam, terutama harga energi. Selain masuknya dana asing di bursa saham, masuknya investor asing cukup deras di pasar obligasi, tercatat Rp. 115,0 triliun pada bulan Januari 2010, terus meningkat Rp. 120,8 triliun, kemudian meningkat cukup pesat Rp. 132,5 triliun dan terakhir tanggal 6 April sebesar Rp. 133,7 triliun.

Diungkapkan Anton, penguatan rupiah ini memang menggembirakan namun tetap harus diwaspadai karena keperkasaan rupiah ternyata membuat barang ekspor Indonesia mulai tidak kompetitif dibandingkan dengan mitra dagang .

"Berdasarkan perhitungan kami, nilai tukar Rupiah yang telah diboboti dengan perdagangan internasional dan inflasi mitra dagang Indonesia yang disebut dengan real effective exchange rate (REER) menghasilkan indeks di bawah 100 sejak bulan Januari 2010, yang artinya barang ekspor Indonesia sudah mulai tidak kompetitif dibandingkan dengan negara-negara pesaing Indonesia," tambahnya.

Melihat kondisi di atas, menurut dia, probabilitas tekanan terhadap rupiah masih cukup besar.

"Dengan melihat tren rupiah sampai sekarang yang penguatannya sangat tajam, tren pergerakan indeks Dollar AS, indeks mata uang Asia, kecenderungan beberapa negara akan menaikkan suku bunga acuannya, dan tekanan pada neraca pembayaran Indonesia, serta analisa daya saing ekspor (REER). Menurut perkiraan kami, walaupun sekarang rupiah hampir menembus ke bawah level Rp 9.000 per dollar AS, kemungkinannya akan sulit bertahan lama, menurut perkiraan kami Rupiah berada pada level Rp 9.500 per dollar AS pada akhir tahun 2010," papar dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau