JAKARTA, KOMPAS.com - Pada awal tahun 2010, secara rata-rata mata uang di Asia cukup perkasa, termasuk rupiah. Untuk bulan Maret saja, rata-rata rupiah menguat 1,9 persen, di tengah-tengah penguatan dollar AS terhadap mata uang utama dunia (G6) yang naik 0,6 persen.
Keperkasaan rupiah tersebut dinilai Ekonom Bank Danamon Anton Hendranata, mengandung risiko, karena lebih banyak ditopang oleh kuatnya arus aliran dana jangka pendek ke perekonomian domestik.
"Jika kita tengok di pasar saham, tren naiknya harga saham Indonesia sangat menakjubkan, namun agar mengkuatirkan karena potensi risikonya sangat tinggi. Kenaikan harga saham Indonesia sangat cepat, bahkan terlalu cepat dibandingkan dengan negara-negara di Asia, sekalipun terhadap Cina yang merupakan motor penggerak perekonomian global," sebutnya.
Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia per tanggal 7 April 2010 mencapai 2.898, telah melewati indeks pada saat perekonomian menggelembung (bubble) pada tanggal 9 Januari 2008 sebesar 2.830, yang akhirnya jatuh pada level 1.111 pada tanggal 28 Oktober 2008.
"Tingginya price earning ratio saham di Indonesia yang telah mencapai nilai 20 akhir-akhir ini, membuat kita harus waspada karena harga saham di Indonesia sudah cukup mahal. Sangat sulit menjelaskan bahwa kenaikan harga saham, faktor utamanya karena kinerja yang luar biasa dari para emiten di pasar bursa," ungkapnya.
Pemicu naik tajamnya harga saham, lanjut dia, lebih disebabkan oleh kenaikan harga komoditas dunia yang melonjak tajam, terutama harga energi. Selain masuknya dana asing di bursa saham, masuknya investor asing cukup deras di pasar obligasi, tercatat Rp. 115,0 triliun pada bulan Januari 2010, terus meningkat Rp. 120,8 triliun, kemudian meningkat cukup pesat Rp. 132,5 triliun dan terakhir tanggal 6 April sebesar Rp. 133,7 triliun.
Diungkapkan Anton, penguatan rupiah ini memang menggembirakan namun tetap harus diwaspadai karena keperkasaan rupiah ternyata membuat barang ekspor Indonesia mulai tidak kompetitif dibandingkan dengan mitra dagang .
"Berdasarkan perhitungan kami, nilai tukar Rupiah yang telah diboboti dengan perdagangan internasional dan inflasi mitra dagang Indonesia yang disebut dengan real effective exchange rate (REER) menghasilkan indeks di bawah 100 sejak bulan Januari 2010, yang artinya barang ekspor Indonesia sudah mulai tidak kompetitif dibandingkan dengan negara-negara pesaing Indonesia," tambahnya.
Melihat kondisi di atas, menurut dia, probabilitas tekanan terhadap rupiah masih cukup besar.
"Dengan melihat tren rupiah sampai sekarang yang penguatannya sangat tajam, tren pergerakan indeks Dollar AS, indeks mata uang Asia, kecenderungan beberapa negara akan menaikkan suku bunga acuannya, dan tekanan pada neraca pembayaran Indonesia, serta analisa daya saing ekspor (REER). Menurut perkiraan kami, walaupun sekarang rupiah hampir menembus ke bawah level Rp 9.000 per dollar AS, kemungkinannya akan sulit bertahan lama, menurut perkiraan kami Rupiah berada pada level Rp 9.500 per dollar AS pada akhir tahun 2010," papar dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang