Kolong Jembatan Layang Kampung Melayu Makin Semrawut

Kompas.com - 12/04/2010, 15:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski sudah sering ditertibkan, puluhan angkutan umum masih nekat ngetem di kolong jembatan layang Kampung Melayu, tepatnya di sisi barat dan timur Terminal Kampung Melayu.

Akibatnya, lalu lintas di kawasan tersebut, baik di Jalan Jatinegara Barat maupun Jatinegara Timur, selalu mengalami kemacetan setiap saat. Padahal, kawasan tersebut merupakan salah satu titik pantau penilaian Adipura di Jakarta Timur.

Semrawutnya lalu lintas di kawasan tersebut ditengarai karena minimnya petugas kepolisian ataupun Sudin Perhubungan setempat. Dengan demikian, para sopir angkutan dengan leluasa ngetem guna mencari penumpang di daerah terlarang.

Kondisi itu diperparah dengan banyaknya puluhan tukang ojek yang turut mangkal mencari penumpang. Padahal, jauh sebelumnya, sejumlah petugas sering berjaga-jaga di kawasan tersebut mengatur lalu lintas.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Jakarta Timur Murdhani mengaku sangat prihatin dan menyayangkan semrawutnya kawasan Kampung Melayu. Terlebih, kawasan itu merupakan salah satu titik penilaian Adipura yang mestinya harus dijaga ketertibannya.

”Lokasi itu memang sangat strategis bagi angkutan umum untuk mendapatkan penumpang, tapi sayangnya mereka tidak memikirkan efek yang diakibatkannya. Karena itu, saya akan meminta petugas terkait untuk menindak para pelanggar yang menjadi biang kemacetan,” ujar Murdhani, Senin (12/4/2010).

Kasudin Perhubungan Jakarta Timur Viktor Tampubolon mengaku telah rutin melakukan patroli di jalur tersebut. Bahkan, sudah berkali-kali tindakan tegas telah diberikan kepada awak angkutan umum yang melanggar peraturan.

Sayangnya, saat petugas lengah, mereka kembali nakal dan main kucing-kucingan dengan petugas sehingga kawasan Kampung Melayu selalu terkesan semrawut. Karenanya, ia mengancam akan memberikan sanksi lebih berat lagi kepada awak angkutan umum. Bentuknya bisa berupa penyetopan izin operasi angkutan tersebut.

”Selain menambah petugas di kawasan yang sering alami kemacetan, kami juga akan menyetop operasi sementara bagi angkutan umum yang kedapatan melanggar. Kami harap bisa menjadikan efek jera buat mereka,” katanya.

Selain angkutan umum jenis mikrolet, kopaja, dan metromini, kawasan tersebut juga disesaki oleh puluhan ojek sepeda motor yang kerap ngetem. Bahkan, tak sedikit gerobak pedagang kaki lima turut menyumbang kesemrawutan di wilayah tersebut.

Ronny (31), tukang ojek sepeda motor, mengatakan, dia bersama rekan-rekan seprofesinya mangkal di kawasan tersebut karena untuk mendapatkan penumpang sangat mudah. Selain lokasinya strategis, yakni dekat terminal dan halte bus transjakarta, juga dekat dengan permukiman penduduk.

”Orang yang keluar dari halte busway atau terminal biasanya yang langsung dicari adalah tukang ojek. Dalam sehari bisa dapat 15 sampai 20 sewa,” katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau