Petani Kakao Unjuk Rasa

Kompas.com - 13/04/2010, 04:03 WIB

Bandar Lampung, Kompas - Pemberlakuan bea ekspor biji kakao dinilai hanya menguntungkan sebagian kecil pengusaha domestik. Sementara harga kakao di tingkat petani turun drastis. Keluhan ini disampaikan ratusan petani kakao dalam unjuk rasa, Senin (12/4) di Gedung DPRD Provinsi Lampung.

Para petani yang berunjuk rasa itu berasal dari Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Mereka menuntut pencabutan Peraturan Menteri Keuangan No 67/2010 tentang Pelaksanaan Ekspor Biji Kakao yang menjadi dasar pemberlakuan bea ekspor kakao.

Mustaim Mustofa, perwakilan petani yang menjadi koordinator Gerakan Masyarakat Petani Kakao, mengungkapkan, pemberlakuan permenkeu ujung-ujungnya memojokkan petani.

Meskipun secara prinsip ketentuan bea pajak berlaku untuk eksportir, kenaikan biaya operasional akhirnya tetap dibebankan ke petani.

”Kami (petani) juga yang akhirnya dirugikan. Eksportir, kan, tidak mau rugi dan memperhitungkan selisih bea ekspor itu ke harga pembelian. Jadinya, harga pembelian di tingkat petani otomatis diturunkan,” tutur Arifin Nuh, petani kakao dari Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung.

Tidak perlu khawatir

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Lampung Ribut Rianto mengungkapkan, pihaknya sebelumnya berkali-kali meminta pemerintah agar mengkaji ulang permenkeu itu.

Menurut Ribut Rianto, pemerintah dan industri pengolahan kakao di Tanah Air seharusnya tidak perlu khawatir akan kesulitan mencari biji kakao. ”Sebab, dari produksi 550.000 ton per tahun, daya serap industri dalam negeri hanya 200.000-an,” ungkapnya.

Provinsi Lampung adalah salah satu daerah penghasil biji kakao dengan produksi 50.000-60.000 ton per tahun. Dari jumlah itu, sebagian produksi biji kakao diekspor ke Malaysia dan China, sementara sisanya dipasarkan di dalam negeri.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia Sindra Wijaya menyatakan dukungan terhadap permenkeu itu. Pihaknya sudah mengusulkan soal bea keluar biji kakao sejak 2002.

Biji kakao sebagian besar diekspor dalam bentuk biji mentah. Hingga sekarang hanya sekitar 20-30 persen dari total produksi biji kakao yang diolah di dalam negeri, sebagian besar diekspor dalam bentuk biji mentah.

”Padahal, biji kakao adalah bahan baku untuk pembuatan cokelat yang digemari oleh hampir semua orang di dunia, terutama masyarakat Amerika dan Eropa,” kata Sindra. (JON/*/GUN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau