Para petani yang berunjuk rasa itu berasal dari Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Mereka menuntut pencabutan Peraturan Menteri Keuangan No 67/2010 tentang Pelaksanaan Ekspor Biji Kakao yang menjadi dasar pemberlakuan bea ekspor kakao.
Mustaim Mustofa, perwakilan petani yang menjadi koordinator Gerakan Masyarakat Petani Kakao, mengungkapkan, pemberlakuan permenkeu ujung-ujungnya memojokkan petani.
Meskipun secara prinsip ketentuan bea pajak berlaku untuk eksportir, kenaikan biaya operasional akhirnya tetap dibebankan ke petani.
”Kami (petani) juga yang akhirnya dirugikan. Eksportir, kan, tidak mau rugi dan memperhitungkan selisih bea ekspor itu ke harga pembelian. Jadinya, harga pembelian di tingkat petani otomatis diturunkan,” tutur Arifin Nuh, petani kakao dari Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Lampung Ribut Rianto mengungkapkan, pihaknya sebelumnya berkali-kali meminta pemerintah agar mengkaji ulang permenkeu itu.
Menurut Ribut Rianto, pemerintah dan industri pengolahan kakao di Tanah Air seharusnya tidak perlu khawatir akan kesulitan mencari biji kakao. ”Sebab, dari produksi 550.000 ton per tahun, daya serap industri dalam negeri hanya 200.000-an,” ungkapnya.
Provinsi Lampung adalah salah satu daerah penghasil biji kakao dengan produksi 50.000-60.000 ton per tahun. Dari jumlah itu, sebagian produksi biji kakao diekspor ke Malaysia dan China, sementara sisanya dipasarkan di dalam negeri.
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia Sindra Wijaya menyatakan dukungan terhadap permenkeu itu. Pihaknya sudah mengusulkan soal bea keluar biji kakao sejak 2002.
Biji kakao sebagian besar diekspor dalam bentuk biji mentah. Hingga sekarang hanya sekitar 20-30 persen dari total produksi biji kakao yang diolah di dalam negeri, sebagian besar diekspor dalam bentuk biji mentah.
”Padahal, biji kakao adalah bahan baku untuk pembuatan cokelat yang digemari oleh hampir semua orang di dunia, terutama masyarakat Amerika dan Eropa,” kata Sindra.