Dokter Pribadi Nunun Pertaruhkan Izin Praktik

Kompas.com - 13/04/2010, 10:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Dokter spesialis saraf yang juga merupakan dokter pribadi Nunun Nurbaeti, dr Andreas Harry, Sps, mempertaruhkan izin praktiknya jika analisisnya bersama tim dokter pendamping terhadap Nunun salah. Harry tidak keberatan jika Komisi Pemberantasan Korupsi membentuk tim dokter guna melakukan pembandingan analisis terhadap Nunun.

Menurut Harry, penyakit yang diderita Nunun tidak mudah disembuhkan. "Ini amnesia yang disebabkan oleh stroke karena faktor yang disebabkan oleh famili. Nenek dan ibunya juga pernah seperti ini, pikun. Kalau amnesia karena metabolik, seperti kurang (vitamin) B12 atau kecelakaan, yakin bisa baik," katanya saat mendampingi mantan Wakil Kepala Polri Komjen (Purn) Adang Daradjatun di Jakarta, Senin (13/4/2010). 

Adang adalah suami Nunun Nurbaeti. Nunun adalah seorang pengusaha. Namanya disebut-sebut dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi sebagai pihak yang memberikan cek perjalanan kepada anggota DPR senilai Rp 24 miliar dalam kasus dugaan suap pada pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom.  

Harry memberi surat keterangan kepada Pengadilan Tipikor bahwa Nunun tidak bisa dihadirkan di persidangan karena menderita amnesia. Saat ini Nunun tengah berobat di Singapura.

Menurut Harry, karena penyakitnya, Nunun tidak bisa berada dalam kondisi stres. Jika stres, penyakit amnesia yang dideritanya bisa menjadi demensia. "Siapa yang bisa menjamin dia di pengadilan tidak kolaps," ujar Harry.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau