Usia saya 19 tahun, masih sangat muda. Bisa berangkat ke Piala Dunia itu mimpi setiap pemain. Ini hal yang besar dalam hidup saya,” tutur Sebastian Coates. Dialah pemain termuda di tim nasional Uruguay yang akan berlaga di Piala Dunia Afrika Selatan, Juni 2010.
Pemilik postur tubuh tinggi dan rambut pirang ini berdiri sambil menyeruput teh saat diwawancarai. Botol air panas ditaruh di bawah ketiaknya. Dandanannya khas Uruguay.
Berlaga di Piala Dunia adalah impian setiap pemain remaja. Mimpi yang terus dipupuk tak mustahil menjadi kenyataan. Itulah keyakinan Coates. Dan, momen itu datang juga tahun ini. Pelatih timnas Uruguay, Oscar Washington Tabarez, mengajak Coates untuk bergabung.
Melakoni debut internasional di pergelaran akbar Piala Dunia adalah sesuatu yang langka. Coates merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan itu.
Coates masih berada di bangku cadangan sewaktu tim Uruguay melawan Kosta Rika pada pertandingan play off. Ia hampir turun lapangan, tetapi gagal. Seusai penyisihan, Coates justru ditunjuk Tabarez untuk masuk timnas.
Menurut Tabarez, Coates urung menjalani debut pada leg pertama pada November 2009 di San Jose karena saat itu pemain tengah belakang, Diego Godin, merasa mampu bermain.
”Pada laga pertama melawan Kosta Rika, tadinya kami mau memasukkan Coates. Saat itu Godin cedera pada menit-menit akhir babak pertama,” ungkap Tabarez. Namun, Godin saat itu berhasil meyakinkan pelatih bahwa ia mampu. Ia bilang, ”Percaya saja kepada saya, saya baik-baik saja.”
Godin pun melanjutkan permainan. Jika saat itu ia tumbang, Coateslah penggantinya. ”Ia akan berjaga ketat di pertahanan,” ujar Tabarez. Baginya, laga melawan Kosta Rika adalah laga mengasyikkan dan penting. Laga itu menentukan apakah Uruguay akan ke Afrika Selatan atau tidak. ”Saat itu, saya benar-benar bangga,” kata dia.
Urung dilibatkan dalam penyisihan play off menjadi keuntungan bagi sejarah karier Coates. Justru di Piala Dunia ia pertama kali menapaki karier internasionalnya.
Coates merasa selalu bekerja keras untuk bisa meraih kesempatan langka ini. ”Bekerja keras di setiap pertandingan bersama klub saya. Saya berpikir, bagaimana agar bisa bermain
Coates memandang Uruguay sebagai skuad yang tangguh, dengan para pemain yang mampu menunjukkan diri di pentas Eropa, bahwa mereka bisa
Uruguay satu grup dengan Afrika Selatan, Perancis, dan Meksiko di Grup A Piala Dunia. ”Semua lawan kami ini sulit (dikalahkan). Tidak ada yang lemah. Ini Piala Dunia. Mereka berada di sana karena mereka adalah tim-tim hebat,”
Sejarah Uruguay pada masa lalu sebagai juara Piala Dunia menjadi faktor positif. Banyak tim yang belum pernah menjadi juara dan Uruguay sudah pernah. ”Saya pikir ini akan dihargai,” katanya. Namun, lanjut dia, ia tidak akan terlalu menuruti ambisinya.