Ktt nuklir

Obama Sambut Wapres Boediono

Kompas.com - 14/04/2010, 04:18 WIB

Washington, Kompas - Wakil Presiden Boediono menjadi salah satu pimpinan dari 47 negara dan tiga organisasi internasional yang disambut satu per satu oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama sebelum pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi Pengamanan Nuklir di Walter E Washington Convention Center di Washington DC, Amerika Serikat, Senin (12/4) malam waktu setempat atau Rabu (14/4) pagi WIB.

Wartawan Kompas, J Osdar, yang mengikuti rombongan Wapres Boediono melaporkan, setelah menerima para pemimpin delegasi tersebut, di tempat yang sama Obama membuka KTT Pengamanan Nuklir.

Pada hari Selasa petang atau Rabu pagi waktu Jakarta, KTT yang diselenggarakan Obama ini mengeluarkan pernyataan bersama tentang pengawalan usaha untuk membersihkan atau mencegah adanya kemudahan bagi jatuhnya bahan-bahan pembuatan bahan peledak nuklir ke tangan kaum teroris.

Sebelumnya, Senin siang waktu setempat atau Selasa waktu Jakarta, Wakil Presiden AS Joe Biden mengundang 12 pemimpin delegasi KTT yang berasal dari negara-negara nonblok, termasuk Wapres Boediono, untuk mengikuti jamuan makan siang di kediaman resmi Wapres AS di Washington DC.

Indonesia adalah peserta penting dalam jamuan ini karena Indonesia adalah ketua kelompok kerja perlucutan senjata nuklir Gerakan Nonblok (GNB).

Dalam kesempatan ini, Biden mengatakan, mengenai senjata nuklir, sikap AS sejalan dengan GNB. ”Satu saja ada tambahan senjata nuklir, itu adalah kesalahan besar,” ujar Biden.

Biden juga menegaskan, ada risiko besar, bahan-bahan material nuklir berada di tangan swasta, seperti industri yang tidak dikendalikan pemerintah. ”Kita tidak pernah bisa menghitung dengan tepat atau memberi label pada semua material itu. Karena itu kita harus menemukan cara agar tidak ada satu pun material yang bocor ke tangan pihak yang tidak berhak,” ujar Biden.

Sementara itu, Wapres Boediono yang didampingi Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menegaskan, Indonesia menyambut baik semua usaha pencegahan jatuhnya bahan-bahan material nuklir penting ke tangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Ini adalah juga keprihatinan utama Presiden Obama.

Menurut Boediono, sikap AS itu semakin dekat dengan pandangan GNB. Menurut Boediono, Indonesia tidak pernah mempunyai aspirasi atau keinginan untuk memiliki senjata nuklir.

Diplomat RI tak membantu

Akan tetapi, kata Boediono, Indonesia ingin bisa memanfaatkan secara maksimal teknologi nuklir untuk keperluan damai. ”Kami tentu ingin menyambut baik kerja sama dengan negara-negara maju yang sudah menguasai teknologi nuklir untuk keperluan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Tujuan utama perjalanan Wapres Boediono ke Washington adalah menghadiri KTT Pengamanan Nuklir ini. Namun, menurut pengamatan para wartawan yang mengikuti perjalanan ini, tampaknya para diplomat Indonesia yang ditempatkan di Amerika Serikat ini tidak begitu banyak membantu diplomasi nuklir damai Indonesia di mata Pemerintah AS maupun pers di Washington.

Kehadiran Indonesia dalam KTT ini sama sekali tidak diketahui para wartawan berbagai media massa AS. Para diplomat Indonesia di AS juga tidak bisa membantu para wartawan peserta rombongan Wapres untuk mengikuti KTT ini, bahkan untuk masuk media centernya saja tidak bisa.

Menurut pengamatan, para diplomat Indonesia banyak yang tidak bisa membantu kelancaran jumpa pers Wapres Boediono dan Menlu Marty Natalegawa dengan wartawan Indonesia di Amerika Serikat. ”Begitulah ulah para diplomat kita di Amerika Serikat ini,” ujar seorang wartawan Indonesia yang telah 10 tahun berada di Amerika Serikat.

Kunjungan ke Indonesia

Senin siang waktu setempat atau Selasa waktu Jakarta, Boediono juga menerima kedatangan Direktur Utama Millenium Challenge Corporation (MCC) Daniel W Yohannes di Wisma Indonesia, Tilden Street, Washington DC.

Dalam jumpa pers dengan para wartawan Indonesia, Boediono antara lain mengatakan, MCC berharap agar Indonesia dan MCC bisa segera menandatangani kesepakatan awal pada Juni 2010 ini bersamaan dengan kedatangan Obama di Indonesia.

Dikatakan, MCC menawarkan dana hibah awal 14 juta dollar AS yang disebut ”precompact program”. Hibah ini khusus untuk biaya studi dampak lingkungan terhadap proyek yang akan mendapat pendanaan dari MCC.

MCC adalah badan independen milik pemerintah federal AS yang berdiri di era Presiden George W Bush Jr. Tugas badan independen ini adalah membantu negara-negara berkembang melalui pemberian dana hibah dengan sejumlah prakondisi yang ditetapkan sebagai indikator penilai kelayakan mendapat bantuan.

Indikator itu di antaranya termasuk tata laksana pemerintahan yang baik melalui serangkaian tindakan pemberantasan korupsi, pengurangan angka kemiskinan, dan perbaikan sarana kesehatan.

Pemerintah Indonesia sudah bekerja sama dengan MCC sejak tahun 2006. Indonesia mendapatkan dana MCC melalui Threshold Program berupa hibah sebesar 55 juta dollar AS. Penggunaannya adalah untuk dua program yang pelaksanaannya pada 2007-2009.

Pertama, Program Antikorupsi sebesar 35 juta dollar AS yang dilaksanakan oleh MA, KPK, LPKP, dan PPATK. Kedua, Program Imunisasi 20 juta dollar AS yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau