Reproduksi

Jutaan Pasangan Alami Infertilitas

Kompas.com - 14/04/2010, 04:41 WIB

Jakarta, Kompas - Sekitar 10 persen pasangan suami-istri mengalami kesulitan memperoleh keturunan sehingga memerlukan bantuan medis untuk mendapatkan keturunan. Penyebab infertilitas terbesar, yaitu 30-50 persen, ialah gangguan pada sperma.

”Jumlah pasangan subur di Indonesia sampai akhir tahun 2009 sekitar 15 juta, dengan demikian

1,5 juta hingga 2 juta pasangan mengalami masalah infertilitas,” ujar Kepala Subunit Pelayanan Yasmin Kencana RSCM dr Budi Wiweko SpOG (K) dalam acara jumpa pers bertema ”Inovasi Bidang Reproduksi: Pelopor Pelayanan Berbasis Riset dan Riset Berbasis Pelayanan”, Selasa (13/4).

Kegiatan itu terkait pembaruan dan peluncuran kembali Klinik Yasmin Kencana RSCM sebagai pusat layanan terpadu gangguan haid dan kesuburan.

Infertilitas ialah ketidakmampuan pasangan suami-istri mendapatkan keturunan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi. Ketidaksuburan pasangan suami-istri di Indonesia 10-15 persen.

Budi mengatakan, beragam persoalan yang menyebabkan infertilitas, tetapi yang terbesar ialah gangguan pada sperma, yaitu 30-50 persen, baik terkait jumlah maupun kualitas sperma. Lainnya ialah sumbatan saluran telur, endometriosis, gangguan perkembangan sel telur, dan berbagai sebab yang tidak dapat dijelaskan.

Namun, kata Kepala Klinik Yasmin Kencana dr Andon Hestiantoro SpOG(K), berbagai problem infertilitas tersebut dapat ditangani. Untuk mengatasi gangguan tersebut, di RSCM tersedia klinik layanan terpadu satu atap. Klinik Yasmin Kencana meliputi enam klinik, yakni endometriosis, sindrom ovarium polikistik, gangguan kesuburan dan bayi tabung, gangguan haid dan menopause, keguguran berulang, serta ginekolog remaja. Selain itu, terdapat laboratorium imunoendokrinologi reproduksi dan genetika. ”Untuk penyimpanan, dapat dilakukan pembekuan dan penyimpanan embrio,” ujarnya.

Bayi tabung

Pasangan suami-istri akan diteliti dulu persoalan ketidaksuburannya untuk mengetahui penanganan yang sesuai. Jika setelah berbagai penanganan terhadap gangguan reproduksi tidak berhasil, dapat dilakukan inseminasi dan bayi tabung. Keberhasilan inseminasi dan bayi tabung tergantung dari usia dan kondisi calon orangtua.

Bayi tabung merupakan pilihan terakhir, kecuali untuk pasangan yang mengalami infertilitas yang disebabkan oleh faktor sperma yang tidak dapat dikoreksi, sumbatan pada kedua saluran telur, endometriosis derajat sedang-berat, gangguan sel telur yang tidak dapat dikoreksi, dan faktor yang tidak dapat dijelaskan.

Andon mengatakan, klinik kesuburan di Indonesia tidak kalah dengan luar negeri. Sayangnya, masyarakat lebih menyukai pergi ke luar negeri, terutama untuk prosedur bayi tabung. Di dunia keberhasilan program bayi tabung 30-35 persen.

Di Klinik Yasmin, berdasarkan data tahun 2009, laju pembuahan mencapai 60,2 persen, laju pembelahan embrio 99,2 persen, serta laju kehamilan 42,4 persen dan kehamilan dengan usia lebih dari tiga bulan mencapai 39,4 persen. Keberhasilan bayi tabung ditentukan oleh usia calon ibu, cadangan sel telur, dan faktor penyebab infertilitas. (INE)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau