A PONCO ANGGORO dan NASRULLAH NARA
Tahun ini, bertepatan dengan usianya yang menapak 75 tahun, genap sudah 35 tahun Mudaffar berdaulat sebagai Sultan Ternate ke-48. Usia menyongsong senja, tak mengendurkan semangat pengabdiannya kepada rakyat.
Awal April lalu, meski waktu menunjukkan pukul 23.30 WIT, ia antusias mengikuti
Rakyat telah menanti dia di Taleka sejak pukul 19.00 WIT. Sultan yang sehari-hari disapa Jo Uu Kolano oleh rakyatnya itu menyalami mereka satu per satu. Sosok yang diakui sebagai penyeru moral dan penjaga nilai kultural warga setempat itu memberi wejangan di hadapan rakyatnya.
Di luar acara adat yang terjadwalkan pun, ia mesti siap terjun menemui warga yang membutuhkan wejangan untuk mengatasi masalah sosial. Semakin banyak warga yang ingin menemuinya, makin sering dia keluar dari kadaton (keraton), kapan pun.
Sopir taksi yang
Mudaffar, anak ketiga Sultan Ternate ke-47, Iskandar Muhammad Djabir Syah (1929-1975), pernah menolak diangkat sebagai sultan. Ia khawatir tak mampu mengemban tanggung jawab itu.
Apalagi, di pengujung pemerintahan Sultan Ternate ke-47, mulai 1950, kondisi Kesultanan Ternate relatif tak normal. Pemerintah pusat saat itu memaksa sultan pindah ke Jakarta. Kegiatan Kesultanan Ternate pun vakum.
Dua kali rakyat Ternate meminta Sultan kembali, tetapi hal itu tak bisa dilakukan karena besarnya tekanan politik. Sampai delegasi rakyat Ternate meminta salah seorang anak Sultan kembali ke Ternate.
"Setelah berulang kali Sultan (sang ayah) memberi penjelasan, tahun 1966 saya pulang melihat situasi di Ternate", cerita Mudaffar, yang sejak itu tinggal di Ternate.
Dia pun mendekatkan diri dengan rakyat. Ia datangi warga di Maluku Utara dengan menumpang perahu dan berjalan kaki. Tak sulit baginya sebab semasa kanak-kanak sampai usia 10 tahun, dia dititipkan di rumah rakyat untuk menyelami kehidupan warga.
Upaya mengembalikan eksistensi Kesultanan Ternate dia perjuangkan lewat jalur politik, saat menjadi anggota DPRD Maluku sampai ketika ia menjadi anggota DPR/MPR dari Partai Golkar. Perjuangan lewat jalur politik terus dia lakukan dengan menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah dari
"Berpolitik bagi saya untuk membangun Ternate dan sekitarnya, tidak berorientasi memperkaya diri atau mengejar kekuasaan, ujarnya".
Ketika ayahnya mangkat pada 1975, Mudaffar ditunjuk sebagai Sultan ke-48 oleh
Dia lalu menata kembali struktur adat Kesultanan Ternate, mengisi kekosongan jabatan, dan menjalankan sejumlah hukum adat sebagai perekat masyarakat. Maka, Kesultanan Ternate mampu menggelar
Legu gam
Permaisuri yang berasal dari Solo, Jawa Tengah, itu juga menginspirasi berdirinya pendopo berbentuk limasan di belakang kadaton Ternate. Bangunan berpilar kayu jati berukiran Jawa itu menjadi ruang tunggu para tamu.
Mudaffar bercerita,
Maka, dirancanglah serangkaian acara
Upaya itu bukan untuk memosisikan Kesultanan Ternate sebagai pesaing Pemerintah Indonesia atau menciptakan negara dalam negara.
Di Ternate juga ada pengabdi kadaton yang tak menuntut upah. Mereka disebut
Meski begitu, Mudaffar tetap memegang teguh filosofi burung elang berkepala dua atau
Selama 35 tahun bertakhta, ia punya obsesi nilai-nilai keraton menjadi acuan dalam membangun karakter bangsa. Di mata Mudaffar, ketika nilai-nilai demokrasi (versi Barat) diserap tanpa persiapan matang dan diterapkan dalam sistem politik, yang terjadi adalah kerapuhan moral di semua lini.
Kerapuhan itu muncul antara lain lewat korupsi merajalela di lembaga eksekutif, legislatif,
H MUDAFFAR SJAH
- Nadiah Tsabitah (16)
- Azka Nukila (6)
- S-1 Fakultas Filsafat, Universitas Indonesia, 1987
Aktivitas antara lain:
1. Anggota DPD/MPR, 2009-2014
- Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Maluku, 1997-1998
- Anggota Dewan Pimpinan Nasional SOKSI, 1968-1970