JAKARTA, KOMPAS.com –Iklim politik Thailand yang kian panas membuat para pebisnis otomotif yang semula menjadikan negara Gajah Putih sebagai tujuan utama, kini memandang Indonesia lebih serius. Apalagi, penjualan produk otomotif, sepedamotor dan mobil terus bergairah.
"Saya bukan mengatakan kita memanfaatkan situasi itu. Tetapi menjadikan momentum ini sebagai peluang untuk maju," ujar Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, kemarin. Ditambahkannya, para prinsipal di Jepang sudah menyatakan ketertarikan menjadikan Indonesia sebagai alternatif investasi di ASEAN. Catatan mereka, harus ada kepastian hukum, kemudahan peraturan dan insentif fiskal.
Beberapa waktu lalu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan menyatakan, sekitar 25 perusahaan asal Thailand tertarik berinvestasi di sektor industri komponen di Indonesia. Hanya belum ada informasi nilai investasi dan beberapa produsen yang akan masuk.
Ketertarikan tersebut salah satu bukti potensi untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi otomotif terbesar di kawasan ASEAN. Sekaligus menggeser dominasi Thailand yang selama ini terus menghantui keberadaan Indonesia. Padahal pasar terbesar ada di negara ini.
Hadi, Ketua Umum Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) menambahkan, produksi industri komponen nasional sudah dipastikan naik mengikuti pasar mobil sepanjang kuartal pertama tahun ini. Pihak GIAMM menyatakan, perusahaan komponen dari Thailand sudah mulai masuk ke pasar Indonesia melalui impor dan berkembang menjadi produksi.
"Sudah ada perusahaan komponen dari Thailand di Indonesia. Mereka mulai masuk tahun lalu dan sekarang sudah memasok OEM (original equipment of manufacturer) pabrikan motor di sini. Untuk tahun ini, saya belum tahun karena bukan anggota kami," ujar Hadi.