Ketika Sagu Diseminarkan

Kompas.com - 14/04/2010, 08:07 WIB

AMBON, KOMPAS.com — Kegiatan seminar internasional tentang "sagu dan rempah untuk ketahanan pangan" akan dilaksanakan menjelang pelaksanaan Sail Banda di Ambon pada 28-29 Juli 2010, yang menghadirkan sejumah pakar tanaman pangan, baik dalam maupun luar negeri.

"Seminar yang dijadwalkan dibuka Menteri Pertanian Suswono itu  menampilkan pakar sagu dari Jepang, Prof DR Horoshi Ehara, DR Jong Fok Shoon ( Malaysia), Mon HO So (Badan Pangan Dunia-FAO perwakilan Indonesia), dan Prof DR H Bintoro Joefrie, MSc, (IPB)," kata  ketua panitia pelaksana, Syuryadi Sabirin, ketika dikonfirmasi di Ambon, Selasa.

Kegiatan sebagai rangkaian dari Sail Banda yang penyelenggaraannya dijadwalkan Juli-Agustus 2010 itu bertujuan menghimpun informasi hasil-hasil kajian tentang sagu dan rempah dari para peneliti, perguruan tinggi, organsiasi profesi, dan pemerhati.

Selain itu, untuk menghimpun informasi tentang pemasaran produk hasil olahan sagu dan rempah dari pengusaha, organisasi profesi, dan pemerhati, serta merumuskan rencana tindak lanjut pengembangan komoditas sagu, pala, dan cengkeh, mulai dari aspek teknologi budidaya sampai pengolahan dan pemasaran dalam mendukung program ketahanan/keamanan pangan.

Seminar akan mengulas topik tentang produksi, pemanfaatan teknologi,  pengolahan, serta pemasaran sagu, pala, dan cengkeh.

Kegiatan ini juga menjadwalkan pertemuan bisnis antara pelaku usaha (eksportir dan importir) dan Pemprov Maluku, dengan harapan terjalin kesepakatan strategis bagi komoditas sagu dan rempah.

Syuryadi  mengemukakan, seminar diprogramkan dihadiri peserta dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Barat.

Perutusan dari Kementerian Pertanian, Perdagangan, BUMN, Koperasi dan UKM, Daerah Tertinggal, Pembangunan dan Bappenas, Perindustrian, serta Kadin Indonesia, industri/pengusaha makanan minuman, dan eksportir rempah.

"Kami itu juga mengundang perwakilan negara sahabat, seperti Australia, Selandia Baru, Timor Leste, Papua Niugini, Singapura, Jepang, Malaysia, China, Brunei, Belanda, dan Grenada," ujar Syuryadi.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Maluku itu mengatakan, melalui seminar ini diarahkan mempromosi dan mendiseminasi kepada dunia internasional soal prospek sagu dan rempah yang merupakan penyebab terjadinya penjajahan.

"Maluku memiliki lahan sagu seluas 31.000 hektar dengan produksi sekitar 25 ton per hektar per tahun sehingga bisa dimanfaatkan untuk sumber karbohidrat, bahan baku industri, dan biotanol," katanya.

Sementara tanaman pala seluas 10.687 hektar dengan produksi 3.297 ton per tahun dan cengkeh 35.481 hektar yang produksinya 13.081 ton per tahun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau