Pentingnya Mendengarkan Musik Saat Olahraga

Kompas.com - 14/04/2010, 09:53 WIB

KOMPAS.com - Ada trik menyenangkan agar kita sukses presentasi proyek di depan bos atau klien, yaitu berolahraga sambil mendengarkan musik. Cara ini terbukti efektif membuat kita merekam pesan di memori otak lebih lama. 

Charles F. Emery, PhD, dari Ohio State University, bersama timnya meneliti 33 orang yang berusia paruh baya. Responden yang terdiri atas perempuan dan laki-laki ini kemudian diminta untuk berolahraga sambil mendengarkan musik dan tanpa musik. Setelah itu, semua responden diminta untuk mengikuti tes verbal dengan cara mendengarkan berbagai macam kata dengan cepat. Hasilnya, responden lebih cepat mengingat kata-kata setelah berolahraga sambil mendengarkan musik upbeat dibandingkan tanpa musik.

Emery menjelaskan, olahraga meningkatkan kerja transmisi di dalam saraf. Sedangkan musik, membantu otak untuk mematangkan transmisi tersebut. Sehingga pesan yang kita terima akan lebih cepat ditangkap, plus tinggal lebih lama dalam kepala kita.

Tidak hanya itu, bahkan bunyi dentuman drum yang sederhana sekalipun dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Mind-Body-Wellness Center mengamati 111 orang yang dibagi dalam enam kelompok. Dua kelompok pertama, terdiri atas kelompok yang mendengarkan permainan drum, dan kelompok lainnya tidak mendengarkan apapun. Sedangkan 4 grup sisanya diminta untuk berpartisipasi aktif dalam latihan drum. Semua responden dalam 6 grup ini, diperiksa level kekebelan tubuhnya sebelum dan sesudah tes.

Responden yang ada dalam kelompok mendengarkan permainan drum menunjukkan peningkatan sistem kekebalan yang signifikan. Hal yang sama juga terjadi pada kelompok yang diminta latihan drum. “Penelitian ini membuktikan bahwa musik memang memiliki manfaat besar bagi sistem biologis tubuh,” Barry B. Bittman, MD, direktur dari pusat pengobatan di Meadville, memberikan pendapatnya atas penelitian yang dilakukan Mind-Body-Wellness Center.

Di Amerika Serikat, dikenal terapi drum dengan cara mendengarkan permainan drum untuk terapi komplementer berbagai penyakit. Mulai dari kanker, gangguan pembuluh darah, gangguan paru-paru kronik, hingga asma. Tapi berhubung di Indonesia terapi ini belum populer, Bittman mengingatkan kita untuk tidak kuatir. “Cukup kumpulkan wadah-wadah bulat, panci, dan sendok. Lalu minta seluruh anggota keluarga berpartisipasi memukul benda-benda tersebut hingga menghasilkan bunyi-bunyian perkusi yang menyembuhkan!”

(Siagian Priska/Prevention Indonesia)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau