Kontrak Riedl, PSSI Berat di Ongkos

Kompas.com - 14/04/2010, 20:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Sekjen PSSI Nugarha Besoes menyatakan, pembicaraan kontrak dengan calon pelatih baru Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Alfred Riedl mengalami penundaan. PSSI tak sanggup membayar gaji yang diminta pelatih asal Austria tersebut.

Pada awalnya PSSI menawarkan gaji sebesar Rp 108 juta per bulan. Namun, Riedl menolak. Mantan pelatih Laos itu hanya mau melatih timnas dengan bayaran Rp 144 juta per bulan, disertai bonus Rp 180 juta bila tim "Merah Putih" masuk semifinal, dan Rp 255 juta sebagai finalis di ajang kompetisi internasional apa pun.

PSSI agak keberatan dengan permintaan riedl tersebut. "Pembicaraan dengan Riedl unttuk sementara kita pending. Mengejar Riedl itu ga gampang. Hambatannya adalah ongkos. Tunggu saja sampai ada keputusan," kata Nugraha di kantor PSSI, Rabu (14/4/2010).

Kemungkinan PSSI akan mengalihkan bidikannya kepada mantan pemain timnas Belanda, Ruud Krool. Ia merupakan pelatih yang direkomendasikan oleh Federasi Sepakbola Belanda (KNVB) kepada PSSI. Negosiasi hingga pekan ini masih berlangsung.

"Krool itu sepertinya lebih murah. Pokoknya Mei harus sudah ada pelatih. Enam bulan sebelum Piala AFF, timnas harus sudah memiliki pelatih," lanjut Nugraha.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau