JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Indonesia percaya, dengan kebijakan mengundur jadwal lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari mingguan menjadi bulanan akan membuat hot money tidak lagi menjadi ancaman bagi apresiasi nilai tukar rupiah. Penyebabnya, investor asing makin percaya diri untuk menanamkan dananya di Indonesia. Hal ini terlihat dari perpindahan dana asing dari SBI satu bulan ke SBI tiga dan enam bulan.
Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Perry Warjiyo mengatakan, dengan makin banyaknya dana asing di SBI tiga bulan, itu menunjukkan confident asing pada penanaman dana di Indonesia semakin besar. "Hal ini membuat tekanan-tekanan capital reversal mereda," ujarnya.
Perry bilang, perubahan ini membuat sisi volume PUAB rata-rata per hari pada Februari Rp 6-8 triliun dan pada Maret menjadi Rp 8-10 triliun. "Transaksi pasar sekunder per hari juga mengalami kenaikan pada Februari Rp 3-4 triliun, sementara transaksi harian per Maret Rp 4-5 triliun," tambahnya.
Perry menambahkan, selama ini asing membeli SBI di secondary market, mereka tidak ikutan lelang. Dengan adanya perubahan jadwal lelang ini, asing tak akan mudah menjual secara besar-besaran karena ada semacam risiko likuiditas sehingga tidak semudah itu untuk jual. "Sehingga kenapa kami katakan investor asing mau tiga bulan, berati mereka confident, dan tidak ada niat mereka untuk keluar," jelasnya.
Perry bilang, ada tiga hal yang menjadi pertimbangan asing untuk mempertahankan dananya di Indonesia. Pertama, pergerakan harga saham. Saat ini asing sudah lebih melihat fundamental emiten ketimbang spekulasi.
Kedua, nilai apresiasi rupiah yang stabil dan di ikuti BI Rate yang tetap selama ini. Ketiga, gain yang diberikan oleh investasi mereka masih tinggi."Jadi kami, katanya, BI tidak akan mengontol dana asing di Indonesia," ujarnya. (Roy Franedya , Ruisa Khoiriyah/Kontan)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang