Seledri, Penyedap yang Berkhasiat

Kompas.com - 15/04/2010, 12:49 WIB

KOMPAS.com - Meski sudah dikenal, mungkin tidak banyak yang tahu kalau seledri terdiri dari 3 jenis, seledri daun, seledri tangkai, dan seledri umbi. Seledri yang ditanam di Indonesia adalah seledri daun dengan nama latin Apium graveolens Linn yang termasuk keluarga Apiaceae. Hampir seluruh batangan tanaman seledri bisa dimanfaatkan. Batang misalnya, mengandung kimia apiin, apigenin, asparagina, inosita, 20 kalori, kalsium 50 mg, kholina, linamarosa, manit, protein, vitamin A, K, 130 SI, BI 0,03 mg, dan C 11 mg. Sedangkan daunnya mengandung fitosterol yang mampu membantu menurunkan kolesterol dan bermanfaat untuk membersihkan mulut dan gigi para lansia.

Tanaman berkhasiat ini ditemukan sekitar tahun 1640 oleh ahli sejarah botani. Saat awal ditemukan, seledri hanya digunakan sebagai sayuran. Beberapa ratus tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1942, barulah seledri digunakan untuk obat-obatan.

Masyarakat di Tiongkok mengkonsumsi tanaman ini untuk menurunkan tekanan darah. Kandungan apigenin yang terdapat di seledri sangat bermanfaat untuk mencegah penyempitan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi. Selain untuk pengobatan, seledri digunakan untuk kecantikan, yaitu menyuburkan rambut dan mengencangkan kulit wajah. Bahkan ada literatur yang menyatakan bahwa sejak 850 sebelum Masehi, tabib Ayurweda kuno sudah menggunakan seledri untuk mengobati demam, flu, pencernaan, sakit limpa, dan hati.

Meramu seledri untuk kesehatan
Selain sebagai penyedap masakan, seledri juga memiliki khasiat-khasiat lain. Berikut beberapa di antaranya:

1. Menurunkan tekanan darah tinggi
Ambil satu tangkai seledri segar, tumbuk halus, beri sedikit air matang, peras, saring, minum. Lakukan sehari satu kali. Selama tiga-empat hari.

2. Mengurangi rematik
Ambil satu tangkai seledri segar, cuci, makan sebagai lalap. Dapat dilakukan 3-5 hari. Di Jepang banyak pasien rematik melakukan diet dengan memakan seledri.

3. Menghilangkan vertigo disertai sakit kepala
Ambil satu tangkai seledri, cuci, potong-potong. Ambil separuh Apel Malang, jangan kupas kulitnya. Jus kedua bahan tersebut, tambahkan madu, lalu minum.

4. Mengatasi sakit mata
Ambil dua tangkai seledri, dua tangkai bayam, satu tangkai daun beluntas, cuci bersih semua bahan, potong kasar, tumbuk semua bahan sampai halus, beri sedikit air, saring, minum. Lakukan sehari sekali selama 3-4 hari.

5. Menumbuhkan rambut pada balita
Ambil dua tangkai seledri segar, tumbuk halus, beri sedikit air, oleskan pada seluruh kulit kepala. Lakukan tiga hari sekali hingga tumbuh rambut.

6. Menurunkan asam urat
Ambil dua gram biji seledri, air satu gelas, rebus hingga mendidih, sampai biji lunak. Saring, minum sehari sekali. Dapat dilakukan 3-4 hari.

7. Menghilangkan pegal pada pinggang dan linu pada punggung. Ambil satu tangkai seledri, buat jus, minum.

8. Menurunkan panas pada anak
Ambil satu tangkai daun seledri, tumbuk halus, tambah sedikit air, oleskan pada kening anak. Lakukan sampai panas turun.

Catatan: Orang hamil dan penderita radang ginjal tidak disarankan mengkonsumsi seledri secara berlebihan, karena dapat menyebabkan kontraksi dan gangguan lainnya.

(Melati/Majalah Sekar)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau