"Baby Blues" Juga Terjadi pada Suami

Kompas.com - 15/04/2010, 17:23 WIB

KOMPAS.com — Kehadiran anak dalam keluarga, apalagi anak pertama, biasanya menjadi berita gembira dan memberi rasa senang. Namun, sebagian orangtua justru mengalami kekacauan emosi menjelang dan sesudah melahirkan. Baby blues ini juga tak hanya terjadi pada istri, tetapi juga suami.

Ciri-cirinya, suami menjadi sensitif, menarik diri dari lingkungan sekitarnya, dan muncul perasaan sedih. Baby blues ini tak hanya dikaitkan dengan bagaimana pria harus bersikap terhadap si bayi, tetapi juga karena suami merasa dinomorduakan oleh sang istri. Dengan kata lain, ini kecemburuan suami terhadap anak.

Menurut Rose Mini, psikolog, depresi pada suami menjelang kelahiran bayi terjadi umumnya karena beberapa hal, di antaranya:

Anak lahir tidak sempurna
Anak yang lahir tidak sesuai ekspektasi, misalkan cacat atau ada kelainan. Sementara orangtua, termasuk suami, tidak siap menerima kondisi tersebut. Hal ini terutama terjadi jika suami merasa perilakunya di masa lalu ada yang menyebabkan anaknya lahir cacat. Rasa bersalah ini bisa semakin menekan suami.

Beban tanggung jawab lebih besar
Adaptasi terhadap kondisi baru dengan kehadiran anak sangat dibutuhkan. Peran suami juga dibutuhkan dalam merawat bayi baru lahir, misalkan mengganti popok di malam hari. Jika tidak mampu beradaptasi dan tidak dikomunikasikan dengan baik dengan istri, akan muncul tekanan dalam diri suami.

Khawatir masa depan anak
Kekhawatiran untuk mampu menafkahi seluruh keluarga, atau bagaimana masa depan sang anak nantinya, menjadi tekanan bagi seorang bapak baru. Belum lagi jika lingkungan luar menuntut peran suami lebih besar.

"Sikap saling terbuka dengan pasangan bisa mengurangi kekacauan emosi semacam ini. Pria cenderung enggan mencari pertolongan jika mengalami situasi semacam ini. Dalam hal ini dukungan dari istri maupun keluarga sangat diperlukan. Cara lainnya adalah dengan konseling," papar Rose dalam talk show "Healthy Life" di Metro TV, Selasa (13/4/2010) lalu.

Menurut Rose, orang dengan karakter yang cenderung cemas berlebihan memiliki potensi lebih besar untuk mengalami baby blues.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau