Penggusuran

Tanjung Priok, Belajarlah dari Kaohsiung

Kompas.com - 16/04/2010, 03:58 WIB

Isu penggusuran kuburan keramat Mbah Priuk memicu kerusuhan berdarah di Kelurahan Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (15/4). Nun di seberang lautan di Pelabuhan Kaohsiung, Taiwan, bangunan tua yang dihuni nelayan berikut tempat ibadah peninggalan nenek moyang menjadi daya tarik Pelabuhan Kaohsiung yang kesibukannya di atas Pelabuhan Tanjung Priok.

Kuil keramat, rumah nelayan, dan perahu tradisional berbaur dengan hiruk pikuk gantry crane, truk pengangkut peti kemas, kapal cargo, dan supertanker di Pelabuhan Kaohsiung, bandar laut terbesar di Taiwan. Pelabuhan Kaohsiung secara geografis mirip Teluk Jakarta. Hanya saja di depan pelabuhan terdapat Pulau Cijin yang memanjang dari barat laut ke tenggara menjadi pemecah ombak alamiah.

Pulau Cijin menjadi salah satu tengara Pelabuhan Kaohsiung dengan mercu suar antik dan Benteng Cihou, kampung nelayan Cijin, kuil keramat Dewi Laut (Tian Hou), dan pelbagai situs berada di Pelabuhan Kaohsiung. Warga dan peziarah datang ke Kuil Tian Hou untuk meminta berkah. Di sela ibadah, terdengar lamat-lamat bunyi peluit kapal yang silih berganti melintas di pelabuhan.

”Kaohsiung kota industri terbesar di Taiwan. Tempat bersejarah dipelihara dan taman didirikan,” kata Sabina, mahasiswi Indonesia di Ursuline College Kaohsiung, Taiwan.

Pelabuhan Kaohsiung tidak seram dan kumuh. Tersedia ruang publik dan tidak melulu mal yang dibangun di pusat ekonomi Taiwan yang memiliki luas setara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten itu.

Bahkan, perusahaan pelayaran di Taiwan turut memelopori pelestarian sejarah. Perusahaan pelayaran, seperti Evergreen dan Wan Hai, menyumbangkan banyak artefak, seperti baling- baling raksasa dari kapal cargo mereka yang dipajang di depan Museum Sejarah Kaohsiung. Hulu Sungai Kaohsiung, yang disebut Love River, dibenahi sehingga aman dan nyaman untuk bersantai.

”Penataan kota yang cerdas dan kreatif menambah daya saing sebuah kota. Kreativitas itu membantu kota-kota Eropa keluar dari krisis ekonomi global tahun 2008,” ujar pakar kerja sama Urban Uni Eropa, Mart Grijsel, di Kaohsiung, tahun lalu.

Sayang pendekatan pembangunan di Jakarta dan Indonesia umumnya belum cerdas dalam mengawinkan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Padahal, tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok, terdapat titik potensi wisata serupa, seperti di kawasan Cilincing, Ancol, dan Semper hingga Pasar Ikan.

Situs bersejarah, seperti makam Mbah Priuk, Gereja Tugu, rumah Si Pitung, hingga satu-satunya tempat pendaratan pasukan Inggris di Asia pada masa perang Napoleon (1811) melawan pasukan Perancis-Belanda di Cilincing seolah tenggelam dalam kehidupan pelabuhan.

Situs lain, seperti Stasiun KA Tanjung Priok, kamp-kamp tawanan perang Sekutu pada masa pendudukan Jepang, dan kapal-kapal militer tipe pengangkut tank (landing ship tanks) peninggalan pendaratan Normandia 1944 (D-Day) yang tersisa kurang dari 10 unit di dunia pun ada di Tanjung Priok!

Anggota staf Penerangan Komando Lintas Laut Militer Mayor, Hari, di Koja menceritakan, warga Amerika Serikat yang berkunjung ke pangkalan terkejut melihat adanya LST bersejarah peninggalan operasi D-Day yang difilmkan dalam Band of Brothers masih dioperasikan TNI AL.

”Sebagai contoh KRI Teluk Tomini merupakan saksi sejarah pendaratan di Normandia. LST lain juga pernah terlibat dalam operasi Mac Arthur saat bertempur di Pasifik. Kapal-kapal itu juga berjasa dalam operasi tempur di Indonesia pada medio 1960 hingga pemulangan pengungsi dari Timtim pascajajak pendapat,” ujar Hari.

Namun, potensi menggabungkan wisata sejarah dengan aktivitas pelabuhan belum menjadi prioritas penguasa. Mereka hanya tahu melayani kepentingan pemodal yang umumnya orang kaya baru. Sayangnya, para pemodal itu belum punya kesadaran melestarikan sejarah sebagai modal menapaki masa depan. Pengelola Tanjung Priok harus belajar setidaknya dari Pelabuhan Kaohsiung.

(Iwan Santosa)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau