JAKARTA, KOMPAS.com — Wajah Padil terlihat lesu menunggu di sepanjang jalan menuju pintu Terminal Peti Kemas Koja. Di sudah tiga hari menganggur tanpa upah. Apa gerangan? Ya, kerusuhan Koja yang menjadi penyebabnya.
Sudah tiga hari ini tak ada peti kemas yang melakukan pembongkaran barang. Baru pagi tadi truk-truk pengangkut peti kemas mulai ada yang keluar terminal. Belum ada yang masuk. Alhasil, Padil pun tak mendapatkan uang untuk keluarganya.
"Katanya, truk masih pada takut ke sini gara-gara kejadian kemarin," ujar Padil saat ditemui di Terminal Peti Kemas Koja, Jakarta, Jumat (16/4/2010).
Padil adalah kuli harian di PT Graha Segara, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bongkar-muat peti kemas. Status Padil sebagai kuli harian membuatnya sangat bergantung pada truk-truk yang mengangkut peti kemas dan membongkarnya di tempatnya bekerja.
"Sejak Rabu saya sudah tak bekerja, hanya menunggu saja di sekitar Jalan Jampea," katanya. Dia mengatakan, gerbang menuju tempatnya bekerja sudah ditutup pada Rabu pagi sehingga Padil tak bisa masuk ke lingkungan kerja. Saat kericuhan terjadi, dirinya tidak ikut-ikutan bentrok. Padil hanya menunggu di bagian atas Masjid At-Tauhid. Kebetulan, dirinya memang berada di sana semenjak pagi hari.
"Kemarin saya takut, Mas. Ributnya sudah parah sekali," keluhnya. Dirinya mengaku lega setelah kemarin terdengar kabar perdamaian. Baginya, perdamaian antara pihak ahli waris dan Pelindo berarti ketenangan dan upah dalam bekerja. "Ya, kalau ribut terus, keluarga enggak bisa saya kasih makan, Mas," tuturnya.
Meski hanya kuli harian, Padil adalah tulang punggung keluarga. Istrinya seorang ibu rumah tangga dan kedua anaknya masih kecil. Tanpa ada upah harian, tentu sangat berat membiayai keluarga.
Padil punya anak berumur enam tahun dan 2,5 tahun. Meski sudah enam tahun, anak Padil itu belum disekolahkan. "Biayanya berat ,Mas. Untuk sehari-hari saja sudah susah," tandasnya.
Meski hari ini kawasan Koja sudah lebih kondusif dibandingkan dengan dua hari yang lalu, Padil masih berharap-harap cemas mengenai upah yang akan didapatkannya. "Ya, semoga saja ada yang bongkar peti," ujarnya menutup pembicaraan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang