Ambon Bernyanyi Sepanjang Hari

Kompas.com - 18/04/2010, 03:37 WIB

 

Budi Suwarna

Ambon tak henti bernyanyi. Sepanjang hari, sejak pagi, siang, sore, hingga malam tiba, suara orang menyanyi terdengar di mana-mana. Tempat-tempat seperti pasar, pinggiran pantai, warung kopi, restoran, bahkan di dalam angkot nyaris tak pernah sepi oleh dendang.

Menyanyi di Tanah Maluku memang tidak sekadar untuk menghibur diri, tetapi juga untuk merekatkan diri. Orang yang ditunggu pengunjung Rumah Kopi Reno akhirnya datang pukul 09.30. Dialah Rio Wiwi (45), pemain organ tunggal di warung kopi itu. Tanpa banyak bicara, dia menyiapkan organ tunggalnya dan main musik. Seorang pengunjung warung kopi bergegas menghampirinya dan berbisik, ”Om, saya mau nyanyi.”

Anak muda bernama Zein itu pun menjadi orang pertama yang bernyanyi di warung kopi di Jalan Baabullah itu. Setelah itu, mikrofon berpindah tangan beberapa kali hingga jatuh ke tangan Syahdjuan Basahona. Dia langsung mendapat tepuk tangan riuh karena suaranya merdu, konon mirip suara Eddy Silitonga.

Menjelang siang, pengunjung bertambah ramai. Mereka datang silih berganti untuk menyanyi dan minum kopi. ”Setiap hari seperti ini. Pegawai negeri, polisi, mahasiswa, aktivis, sampai wartawan ngopi dan nyanyi di sini. Mereka baru berhenti nyanyi kalau warung ini tutup pukul 19.00,” kata Hj Reno, pemilik warung kopi tersebut.

Suasana seperti itu tidak hanya terlihat di Reno, tetapi juga di hampir semua warung kopi di Ambon yang umumnya menyediakan organ tunggal atau fasilitas karaoke. Konon, tanpa organ tunggal dan karaoke, warung kopi akan sepi pengunjung.

Ketika warung kopi tutup, anak-anak muda yang gemar berdendang berpindah ke Pantai Losari. Di sana, mereka menyanyi di warung-warung tenda yang menyediakan organ tunggal atau fasilitas karaoke sambil menikmati suasana malam. Ada juga yang menuntaskan hasrat menyanyi di restoran, kafe, atau tempat karaoke.

Selain di tempat hiburan, suara orang-orang berdendang juga terdengar dari rumah-rumah penduduk yang mengadakan pesta. ”Di pesta-pesta kita puas menyanyi. Di sini apa saja dipestakan, mulai ulang tahun sampai upacara potong rambut bayi,” kata Lily Maatita (58), warga Natsepa yang senang menyanyi dan berdansa.

Begitulah. Sepertinya, tidak ada hari tanpa nyanyian di Ambon. Bahkan, angkot-angkot yang berseliweran di jalan pun ”mendendangkan” musik hip hop yang suaranya berdentum-dentum.

Tiga kali sehari

”Hidup tanpa musik seperti makan sayur tanpa garam. Hambar,” kata Syahdjuan. Perasaan seperti itu yang menuntun dia tiga kali sehari datang ke warung kopi dan kafe untuk menyanyi. Laki-laki yang bekerja sebagai PNS itu pagi-pagi, sebelum masuk kantor, ngopi di Reno dan menyanyi. Saat istirahat kantor, dia datang lagi ke Reno untuk makan siang dan menyanyi. Malam hari, dia pindah ke Hatukau di Batumerah, lagi-lagi, untuk menyanyi.

Hari itu, Syahdjuan datang ke Reno saat jam kantor. Dia bilang hari itu tidak enak badan sehingga memilih tidak masuk kantor. Namun, dia tetap datang ke Reno karena tidak rela melewatkan begitu saja waktu menyanyi di warung kopi itu. Buat dia, menyanyi sudah menjadi ”ritual” sehari-hari. ”Kalau tidak menyanyi, rasanya ada yang kurang,” katanya.

Salim, sopir mobil sewaan, sejak remaja keranjingan menyanyi. Pria paruh baya itu biasa nongkrong malam hari di Warung Kopi Balabuh di Simpang Al Fatah. ”Di sana saya karaokean bersama teman-teman sopir lainnya. Biasanya saya menyanyi tiga lagu. Sekali menyanyi bayar Rp 1.000.”

Kalau sudah menyanyi, kata Salim, rasanya semua persoalan terlupa. ”Bahkan, yang dulu baku hantam dalam kerusuhan (tahun 1999-2004), langsung basudara (bersaudara) kalau menyanyi bersama di warung kopi,” ungkapnya.

Perekat sosial

Mengapa orang Ambon gemar berdendang? Orang-orang di warung kopi bilang, ”Itu Tuhan punya mau.” Namun, Chris Pattikawa, yang pernah menjadi produser di TVRI, melihat, kegemaran menyanyi orang Ambon ada kaitannya dengan kondisi alam.

”Di Ambon angin bertiup sepoi-sepoi. Suara ombak ritmis dan bermacam-macam bunyinya. Jadi, sejak lahir orang Ambon sudah terbiasa dengan nada, irama, ritme, dan harmoni,” katanya.

Dari sudut lain, antropolog-sosiolog dari Universitas Pattimura, Tonny Pariela, menjelaskan, kebiasaan menyanyi merupakan hasil pertemuan antarkultur orang Ambon dan Belanda serta Portugis. Tradisi ini kemudian menyebar ke penduduk Ambon, apa pun agamanya.

”Buat orang Ambon, menyanyi sekarang menjadi medium untuk mengekspresikan diri. Perasaan sedih, senang, rindu diungkapkan lewat lagu,” kata Tonny.

Nyanyian dalam kultur Ambon, lanjut Tonny, juga memiliki fungsi sosial selain hiburan. ”Nyanyian menjadi alat perekat sosial. Nilai-nilai luhur nenek moyang, kecintaan pada Tanah Ambon dan mama diturunkan lewat syair-syair lagu Ambon dari generasi ke generasi hingga sekarang,” ujarnya.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam lagu Ambon selanjutnya tertanam di kepala hampir semua orang Ambon. Ini menjadi ingatan kolektif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau