Nasib Petani Tua dan Ternaknya di Eslandia

Kompas.com - 19/04/2010, 09:10 WIB

KOMPAS.com — Langit tak henti-hentinya mencurahkan hujan abu vulkanik ke Bumi. Keadaan sunyi senyap, gelap gulita meski jarum jam menunjukkan hari masih siang. Beberapa kendaraan merangkak pelan meski cahaya lampunya redup, tidak dapat menghalau kegelapan.

Orang-orang mengenakan masker dan senter. Semua bangunan atau rumah berselimutkan abu. Pohon dan rumput tertutup abu. Kebun yang indah telah berubah warna menjadi abu-abu. Sapi melenguh dan kawanan domba menjerit karena tiada lagi rumput hijau, dan air pun berbau belerang.

Begitulah suasana di Eslandia, Minggu (18/4). Suasana asing itu pun sudah berlangsung dalam lima hari ini sejak gunung api di bawah lapisan es tebal atau gletser Eyjallajokull meletus hari Rabu (14/4). Sesekali angin badai yang mengandung partikel letusan gunung menerjang daratan.

Anehnya, masih banyak warga yang tetap bertahan di sana. Di antaranya adalah Asta Sveinbjarnardottir dan suaminya, Gudmundur Gudmundsson, keduanya telah berusia 86 tahun. Mereka tidak bisa mengungsi, terperangkap di dalam pondoknya di Nupur, yang atapnya sudah tertutup debu.

Untuk mencapai Nupur, orang harus keluar dari jalan utama yang juga telah sepi. Tanah sudah tertutup lautan debu. Udara yang semula dingin sudah berubah menjadi hangat, dengan bau belerang menyengat, membuat mata perih, dan menyesakkan dada. Keheningan sangat terasa di Nupur. Kebun yang indah di musim panas telah berselimut debu tebal.

Di dalam dapurnya yang bercahaya redup, Asta menawarkan segelas susu dan sepotong keju kepada tamunya. Mereka mengusir sepi dengan menyetel radio untuk mendengarkan musik klasik. Beberapa potret hitam putih dari beberapa generasi tampak menghias dinding.

Asta mengaku percaya kepada Tuhan dan sering membaca Alkitab. Meski demikian, ketika gunung meletus dan menghujankan abu vulkanik, dia sempat ciut.

”Saya sebenarnya pernah bermimpi sebelumnya bahwa gunung akan meletus, dan keadaan akan seperti saat ini. Saya bermimpi bahwa sebuah kaleng berisi bensin tiba-tiba terbakar. Saya bermimpi melihat api, dan api itu sekarang telah muncul,” katanya. ”Saya sekarang tidak takut. Tidak, tidak, tidak,” katanya.

Tiba-tiba suasana menjadi tenang kembali. Sekelompok petani muda mengetuk pintu memecah keheningan. Mereka mengenakan masker dengan pakaian penuh abu, tapi wajah mereka tetap ceria. ”Selamat datang di musim hujan abu,” gurau Einar Vidarsson (29) sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Dia dan teman-temannya datang untuk memastikan apakah pasangan tua renta itu dalam kondisi baik-baik saja. ”Orang-orang lain pada ketakutan. Mereka berdua malah santai saja, seperti tidak terjadi apa-apa,” kata Vidarsson.

Selain merawat satu sama lain, petani tua yang menetap di kawasan gunung berapi itu juga memiliki ternak seperti sapi, domba, dan kuda. Entah bagaimana mereka bisa menggiring ternaknya ke kandang.

Di sepanjang jalan masih ada beberapa ternak peliharaan. Mereka berdiri membisu, kusut dalam abu. Air dan rumput menjadi masalah utama. Jika hal ini berlangsung lama, mungkin kehidupan mereka akan segera berakhir. Vidarsson menuturkan, adiknya memiliki 130 kuda, 300 domba, dan beberapa ekor kambing. Mereka mulai khawatir akan nasib ternak dan nasib keluarganya sendiri. (AFP/AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau