Mari Mencoba Mi Koba

Kompas.com - 19/04/2010, 15:17 WIB

Oleh Ilham Khoiri dan Lusiana Indriasari

Ada banyak jenis makanan yang layak dicoba ketika Anda mengunjungi Pangkal Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Salah satunya, mi koba. Mi dari daerah Koba, Bangka Tengah, ini disantap dengan kuah kaldu ikan tenggiri.

Kami mengunjungi Kota Pangkal Pinang, pertengahan Februari lalu. Pagi itu, sekitar pukul 08.00, perut mulai berbunyi. Sudah waktunya mencari sarapan. Seorang teman yang tinggal di kota itu menyarankan kami untuk mencoba salah satu tempat makan favorit di kota itu, yaitu Mi Koba.

Penasaran, kami bergegas menuju satu-satunya Warung Mi Koba yang berada di Jalan Balai, bagian selatan kota kecil itu. Ternyata, rumah makan itu ramai. Rupanya banyak pegawai kantoran yang mampir sarapan di situ sebelum kerja.

Begitu mendapat tempat duduk, kami meminta daftar menu dan bertanya, ada menu mi apa saja? Mereka malah bingung. Teman tadi langsung menyenggol sambil berbisik, ”Di sini hanya jualan satu menu saja, ya mi koba. Jadi duduk saja, nanti otomatis akan dilayani.”

Benar saja. Tidak berapa lama pelayan menghidangkan dua piring mi. Mi itu mi rebus yang direndam dalam kuah ikan tenggiri. Sebagai campuran, juru masak memberi sejumput taoge segar. Ada juga irisan daun seledri dan bawang goreng untuk penyedap rasa.

Sajian itu biasa dimakan dengan telur rebus. Untuk membuat rasa lebih kental, pengunjung bisa menambahkan sambal, perasan jeruk limau, kecap, atau saus yang tersedia di meja.

Harga mi koba juga cukup murah. Satu porsi mi dengan telur Rp 10.000. Jika tanpa telur, harga satu porsinya menjadi Rp 8.000.

Buatan tangan

Apa istimewanya mi koba di warung itu sehingga diminati banyak pelanggan?

Mi koba rasanya gurih-manis-pedas. Minya sendiri kenyal, lembut di lidah, dan empuk. Ini sangat berbeda dengan banyak mi yang dijual kiloan yang biasanya agak keras. Kuah ikan tenggiri memberi rasa gurih dan tidak berbau amis. Potongan kecil-kecil daging ikan sudah pasti menambah nikmat.

”Saya suka mi koba karena semuanya buatan tangan, bukan buatan mesin pabrikan. Saya tak khawatir ada bahan pengawet kimia,” kata Yusril (33), warga Pangkal Pinang yang rajin mampir ke warung itu.

Mi koba memang dibuat secara manual alias dengan tangan. Menurut Iskandar, pemilik Warung Mi Koba, mi itu dipesan khusus dari pembuat mi tradisional. Bahannya terigu, garam, soda, dan telur yang dicampur jadi adonan. Setelah dipres pakai kayu sampai jadi tepung kenyal, adonan tadi digiling pakai ampiya sehingga membentuk sulur-sulur panjang.

”Seluruh proses pembuatan mi pakai tangan. Tidak ada bahan kimia,” kata Iskandar.

Kuah kaldu ikan tenggiri juga diproses secara tradisional. Ikan yang dibeli dari pasar dibersihkan, direbus sampai matang, didinginkan, dan dibersihkan dari kulit dan duri-durinya. Daging ikan tadi ditumbuk sampai halus, kemudian ditumis dengan berbagai ramuan bumbu.

Di warung, daging setengah matang tadi digodok lagi sampai menjadi cairan kaldu. Kaldu inilah yang dituangkan sebagai kuah mi. ”Kami pakai banyak rempah-rempah, seperti cengkeh, pala, kayu manis, ketumbar, kembang pala, dan gula aren asli. Selain melezatkan, racikan bumbu itu berkhasiat menghilangkan bau amis ikan,” katanya.

Mungkin proses produksi dan kekhasan ramuan itulah yang membuat Mi Koba punya banyak penggemar. Dalam sehari, warung itu bisa menghabiskan sekitar 30 kilogram mi. Jika satu kilogram mi bisa dibuat jadi 15 porsi, maka dalam sehari terjual sekitar 450 porsi.

”Kalau hari ramai, atau banyak pesanan, kami bisa menghabiskan lebih banyak mi lagi,” kata Pipit, salah satu pelayan di warung itu.

Warung Mi Koba di Pangkal Pinang dibuka tiga tahun silam. Warung ini merupakan cabang dari warung serupa di Koba, Bangka Tengah, yang sudah berdiri sejak 20-an tahun lalu. Pelanggan yang ingin menikmati mi ini basa datang pukul 08.00-22.00.

Nama tambahan ”koba” sendiri diperoleh secara tak sengaja. Setelah Kepulauan Bangka Belitung menjadi provinsi terpisah dari Sumatera Selatan dan Bangka Tengah menjadi kabupaten sendiri, banyak digelar pameran. Iskandar kerap diundang untuk membawa mi olahannya sebagai wakil Kabupaten Bangka Tengah.

Ternyata, respons masyarakat bagus. ”Bupati Bangka Tengah lalu memberi nama mi tadi sebagai mi koba. Nama itu kami pakai terus sampai sekarang,” kata Iskandar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau