Satpol PP Jakbar Diminta Lebih Persuasif

Kompas.com - 19/04/2010, 21:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagai pengawal perda, keberadaan Satpol PP sangat dibutuhkan dalam menciptakan ketertiban di ibu kota. Namun, agar tidak terjadi gesekan dengan masyarakat, Satpol PP diminta mengedepankan pendekatan secara persuasif dengan mengutamakan dialog dan mengefektifkan sosialisasi aturan kepada masyarakat.

“Ke depan, Satpol PP Jakbar harus lebih mengutamakan sikap persuasif dalam setiap penyelesaian permasalahan,” ujar Djoko Ramadhan, Wali Kota Jakarta Barat, saat memberi pengarahan kepada sekitar 200 anggota Satpol PP Jakarta Barat di Ruang Pola Wali Kota Jakarta Barat, Senin (19/4/2010).

Terkait meninggalnya Ahmad Tajudin (27) yang tercatat sebagai anggota Satpol PP Jakarta Barat pada insiden di Makam Mbah Priuk, Rabu (14/4/2010) lalu, Djoko juga meminta anggota Satpol PP Jakarta Barat tidak patah semangat dalam menjalankan tugas. Namun, pihaknya meminta aktivitas penertiban untuk sementara dihentikan hingga keadaan kondusif. “Satpol PP untuk sementara harus menarik diri dari kegiatan penertiban hingga situasi dan kondisi membaik,” pintanya.

Camat Grogol Petamburan Tadjudin Widodo mengakui, opsi menarik diri yang diambil Satpol PP untuk sementara ini membuat pedagang kaki lima (PKL) mengambil kesempatan itu untuk kembali berdagang. Walau begitu, situasi ini hanya sementara hingga keadaan membaik. "Sekarang cooling down saja dulu,” ungkapnya.

Camat Cengkareng Rohali mengungkapkan, langkah yang diambil Satpol PP ini untuk menghindari terjadinya peristiwa buruk. Namun, intinya, Jakarta tetap masih membutuhkan Satpol PP. “Kalau urusan PKL, polisi mana mau melakukan itu,” katanya.

Pantauan beritajakarta.com di lapangan, kondisi ini memang dimanfaatkan sejumlah PKL untuk kembali berjualan, seperti yang terlihat di lampu lalu lintas Cengkareng dan Grogol. Sejumlah pedagang sarung ponsel, tas, baju, dan kaset tampak mulai berani menjajakan barang dagangannya di tempat terlarang tersebut. Bahkan, sejumlah pedagang yang biasa berjualan di dalam Lokbin Rawabuaya kini juga mulai berani berjualan di badan jalan dekat lokbin tersebut.

“Kalau seperti ini terus, kita enak berdagang. Padahal, sebelumnya selalu dihantui rasa waswas takut ada penertiban,” tandas Darmaji (41), salah seorang PKL yang mangkal di lampu lalu lintas Grogol, Jakarta Barat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau