JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagai pengawal perda, keberadaan Satpol PP sangat dibutuhkan dalam menciptakan ketertiban di ibu kota. Namun, agar tidak terjadi gesekan dengan masyarakat, Satpol PP diminta mengedepankan pendekatan secara persuasif dengan mengutamakan dialog dan mengefektifkan sosialisasi aturan kepada masyarakat.
“Ke depan, Satpol PP Jakbar harus lebih mengutamakan sikap persuasif dalam setiap penyelesaian permasalahan,” ujar Djoko Ramadhan, Wali Kota Jakarta Barat, saat memberi pengarahan kepada sekitar 200 anggota Satpol PP Jakarta Barat di Ruang Pola Wali Kota Jakarta Barat, Senin (19/4/2010).
Terkait meninggalnya Ahmad Tajudin (27) yang tercatat sebagai anggota Satpol PP Jakarta Barat pada insiden di Makam Mbah Priuk, Rabu (14/4/2010) lalu, Djoko juga meminta anggota Satpol PP Jakarta Barat tidak patah semangat dalam menjalankan tugas. Namun, pihaknya meminta aktivitas penertiban untuk sementara dihentikan hingga keadaan kondusif. “Satpol PP untuk sementara harus menarik diri dari kegiatan penertiban hingga situasi dan kondisi membaik,” pintanya.
Camat Grogol Petamburan Tadjudin Widodo mengakui, opsi menarik diri yang diambil Satpol PP untuk sementara ini membuat pedagang kaki lima (PKL) mengambil kesempatan itu untuk kembali berdagang. Walau begitu, situasi ini hanya sementara hingga keadaan membaik. "Sekarang cooling down saja dulu,” ungkapnya.
Camat Cengkareng Rohali mengungkapkan, langkah yang diambil Satpol PP ini untuk menghindari terjadinya peristiwa buruk. Namun, intinya, Jakarta tetap masih membutuhkan Satpol PP. “Kalau urusan PKL, polisi mana mau melakukan itu,” katanya.
Pantauan beritajakarta.com di lapangan, kondisi ini memang dimanfaatkan sejumlah PKL untuk kembali berjualan, seperti yang terlihat di lampu lalu lintas Cengkareng dan Grogol. Sejumlah pedagang sarung ponsel, tas, baju, dan kaset tampak mulai berani menjajakan barang dagangannya di tempat terlarang tersebut. Bahkan, sejumlah pedagang yang biasa berjualan di dalam Lokbin Rawabuaya kini juga mulai berani berjualan di badan jalan dekat lokbin tersebut.
“Kalau seperti ini terus, kita enak berdagang. Padahal, sebelumnya selalu dihantui rasa waswas takut ada penertiban,” tandas Darmaji (41), salah seorang PKL yang mangkal di lampu lalu lintas Grogol, Jakarta Barat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang