Pembuluh Tersumbat, Awas Kram Jantung

Kompas.com - 20/04/2010, 11:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyak orang menyebut nyeri dada lebih sebagai kram jantung. Sementara dalam dunia medis, para ahli jantung menyebutnya dengan nama angina pectoris.

Emanoel Oepangat, pakar penyakit jantung dari Siloam Hospital, Tangerang, menyatakan, kram jantung banyak menjangkiti pria berusia sekitar 50 tahun ke atas. Adapun perempuan yang terkena pada umumnya berumur lebih dari 55 tahun.

"Lebih tahannya perempuan karena mereka memiliki hormon ketahanan tubuh yang lebih baik daripada pria," lanjut Emanoel.

Penyebab terjadinya kram jantung adalah adanya penyumbatan dalam pembuluh jantung. Penyumbatan itu akibat penumpukan lemak dan kolesterol dalam aliran darah. Namun, hal ini bisa juga terjadi karena ada pengapuran pada pembuluh tersebut. Akibatnya, aliran dalam darah tidak mengalir sempurna.

"Pengapuran adalah proses alami pada manusia. Oleh karena itu, setiap orang berisiko terkena angina pectoris," ujar Emanoel.

Bagi penderita obesitas, risiko terkena kram jantung jauh lebih besar karena penderita obesitas atau kegemukan memiliki lemak berlebih. Pun begitu bagi penderita diabetes melitus, risiko terkena angina pectoris besar pula. "Tekanan gula yang tinggi akan menghambat penyaluran udara ke pembuluh jantung," ujarnya.

Angina pectoris juga merupakan penyakit keturunan. Artinya, bila ada salah satu anggota keluarga yang sudah pernah terjangkit penyalit ini, anak cucunya pun bisa mengalami hal yang sama. "Bahkan, faktor keturunan lebih rawan daripada faktor-faktor yang lainnya," imbuh Harmani Kalim, pakar penyakit jantung di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta Barat.

Faktor keturunan akan lebih cepat terlihat gejalanya daripada faktor yang lainnya. Kalau umumnya angina pectoris baru terlihat pada usia 50 tahun ke atas, tetapi jika disebabkan karena faktor keturunan bisa lebih muda lagi.

"Usia 35 tahun sudah ada yang terserang angina pectoris," kata Harmani. Parahnya lagi, seiring pertambahan usai, intensitas serangan penyakit ini semakin bertambah.

Meski menakutkan, penyakit ini nyatanya tetap bisa diobati. Syaratnya, pasien tidak terlambat datang ke ahli. "Dengan melebarkan pembuluh jantung yang menyempit, sakit jantung bisa diobati," kata Harmani. Melebarkan pembuluh ini bisa dilakukan dengan dua cara, yakni berobat jalan dan operasi.

Obat jalan diberikan bila penyakit ini baru memasuki tahap awal. Cirinya, penyumbatan pembuluh belum parah dan masih bisa dikembalikan. "Cara pengobatannya dengan pemberian aspirin berdosis rendah untuk memperlancar aliran darah," kata Emanoel.

Namun, pemberian aspirin ini tidak boleh sembarangan. Pemberian aspirin harus berada dalam pengawasan dokter. "Bila tanpa pengawasan dokter, pasien tidak akan tahu apakah penyumbatan sudah normal atau belum," kata Emanoel.

Adapun penyembuhan lewat operasi ditujukan bagi pasien yang telah mengalami penyempitan parah. Operasi yang dilakukan adalah kateterisasi, yakni memasukkan selang khusus ke pembuluh darah.

Selang itu ditiupkan untuk melebarkan penyempitan pembuluh jantung. Peniupan ini biasa disebut juga dengan nama balonisasi.

Setelah peniupan, dokter akan melakukan tindakan tambahan agar hasil peniupan tersebut lebih sempurna, yakni dengan pemasangan ring atau cincin penyanggah, yang biasa disebut stent. Stent ini berguna menjaga intensitas aliran darah koroner.

Menjaga intensitas aliran darah ini bisa juga dilakukan dengan cara lain, yaitu pengeboran kerak di dalam pembuluh darah (directional atherectomy). "Ini dilakukan agar pembuluh tidak menyempit kembali," kata Emanoel. (Adi Wikanto)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau