Bencana abu vulkanik

Turis Eropa Terkatung-katung di Bali

Kompas.com - 20/04/2010, 13:03 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Sejak pagi tadi, Selasa (20/4/2010) di kantor PT Angkasa Pura I Ngurah Rai Denpasar, tampak puluhan wisatawan asal Eropa mondar-mandir ke sejumlah operator airlines untuk menanyakan kepastian penerbangan mereka pulang ke negaranya.

Namun, sampai saat ini penerbangan ke Eropa khususnya ke negara yang berdekatan dengan Inggris masih mengalami penundaan akibat awan abu vulkanik dari letusan gunung berapi di bawah gletser Eslandia.

Sebagian dari mereka mengeluhkan penundaan ini karena menghambat aktivitas mereka sehari-hari. “Saya harus segera pulang hari Kamis karena harus bekerja. Namun, saya tidak bisa berbuat apa-apa kalau penerbangan dibatalkan. Saya akan kirim e-mail ke bos, mudah-mudahan dia dapat mengerti,” ujar Christ, wisatawan asal Jerman yang tengah kebingungan mencari cara untuk pulang ke negaranya.

Hal serupa juga dialami Ben Jacob beserta keluarganya. Wisatawan asal Jerman yang baru saja berlibur selama tiga minggu di Bali ini juga terpaksa menunda kepulangannya. “Saya harus bekerja dan anak-anak juga harus sekolah. Sementara uang saya di sini juga sudah habis,” keluh Ben Jacob kepada Kompas.com, Selasa.

Ben Jacob yang menggunakan maskapai China Airlines mendapat opsi untuk transit di China dan menunggu di sana sampai penerbangan menuju Jerman dibuka kembali.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau