DENPASAR, KOMPAS.com — Pemerkosaan berantai terhadap anak di bawah umur menggegerkan Bali. Enam bocah sudah menjadi korban. Pelaku masih gentayangan. Polisi belum berhasil menangkapnya. Sebanyak 1.700 desa adat di Bali bersatu membantu polisi memburu pelaku.
Perkosaan membuahkan trauma. Pada anak di bawah umur, peristiwa tragis ini bisa mengganggu perkembangan psikologisnya. Trauma ini dirasakan oleh FT, orangtua AS, bocah kelas III SD yang menjadi salah seorang korban perkosaan. Meski diakui bahwa kondisi AS mulai stabil, ia kerap tidak mau bicara jika teringat kasus tersebut.
"Kalau AS masih takut, kadang bisa bicara, bisa enggak," cerita FT kepada Kompas.com di rumahnya di Monang-Maning, Denpasar, Bali, Rabu (21/4/2010). Saat ini AS belum mau sekolah dan rencananya pihak orangtua akan memasukkannya ke pondok pesantren.
FT menuturkan, pada malam sebelum kejadian, ia merasakan firasat tidak enak. "Malamnya saya ada firasat jelek: bangun-tidur, bangun-tidur. Terus sakit ambeien saya kumat," ujarnya.
"Pagi hari saat kejadian saya tidak sempat mengantar anak saya karena sakit saya parah. Waktu AS minta uang saku, saya tidak bisa jawab dan akhirnya AS ambil uang saku sendiri di kantong saya," kenang FT.
Menurut pengakuan AS kepada orangtuanya, pelaku pemerkosaan mengaku sebagai teman ayahnya. "Saya temannya bapak, tadi bapak suruh om jemput kamu terus diantar ke tempat bapak mancing," kata FT menirukan bujuk rayu pelaku.
Korban AS yang sempat menolak langsung ditarik ke motor pelaku dan dibawa ke semak-semak di Jalan Mahendradatta, Denpasar. "Saat mau diperkosa, AS diancam kalau berteriak akan dibunuh, dan lehernya sempat dicekik," lanjut wanita berusia 37 tahun ini.
Setelah puas melampiaskan nafsu bejatnya, korban ditinggalkan sendirian di semak-semak tersebut. Korban akhirnya mencari pertolongan dengan mendatangi sebuah taman kanak-kanak di wilayah tersebut. Karena korban mengalami pendarahan pada kelaminnya, sejumlah warga akhirnya mengantar korban ke bidan untuk mendapatkan perawatan.
Setelah itu, korban diantar ke sekolah korban dan akhirnya pihak sekolah memberi tahu peristiwa tersebut kepada orangtuanya yang kemudian dilaporkan ke polisi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang