Perkosaan berantai di bali

Inilah Kesaksian Orangtua Korban

Kompas.com - 21/04/2010, 13:53 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Pemerkosaan berantai terhadap anak di bawah umur menggegerkan Bali. Enam bocah sudah menjadi korban. Pelaku masih gentayangan. Polisi belum berhasil menangkapnya. Sebanyak 1.700 desa adat di Bali bersatu membantu polisi memburu pelaku.

Perkosaan membuahkan trauma. Pada anak di bawah umur, peristiwa tragis ini bisa mengganggu perkembangan psikologisnya. Trauma ini dirasakan oleh FT, orangtua AS, bocah kelas III SD yang menjadi salah seorang korban perkosaan. Meski diakui bahwa kondisi AS mulai stabil, ia kerap tidak mau bicara jika teringat kasus tersebut.  

"Kalau AS masih takut, kadang bisa bicara, bisa enggak," cerita FT kepada Kompas.com di rumahnya di Monang-Maning, Denpasar, Bali, Rabu (21/4/2010). Saat ini AS belum mau sekolah dan rencananya pihak orangtua akan memasukkannya ke pondok pesantren. 

FT menuturkan, pada malam sebelum kejadian, ia merasakan firasat tidak enak. "Malamnya saya ada firasat jelek: bangun-tidur, bangun-tidur. Terus sakit ambeien saya kumat," ujarnya. 

"Pagi hari saat kejadian saya tidak sempat mengantar anak saya karena sakit saya parah. Waktu AS minta uang saku, saya tidak bisa jawab dan akhirnya AS ambil uang saku sendiri di kantong saya," kenang FT.

Menurut pengakuan AS kepada orangtuanya, pelaku pemerkosaan mengaku sebagai teman ayahnya. "Saya temannya bapak, tadi bapak suruh om jemput kamu terus diantar ke tempat bapak mancing," kata FT menirukan bujuk rayu pelaku.

Korban AS yang sempat menolak langsung ditarik ke motor pelaku dan dibawa ke semak-semak di Jalan Mahendradatta, Denpasar. "Saat mau diperkosa, AS diancam kalau berteriak akan dibunuh, dan lehernya sempat dicekik," lanjut wanita berusia 37 tahun ini.

Setelah puas melampiaskan nafsu bejatnya, korban ditinggalkan sendirian di semak-semak tersebut. Korban akhirnya mencari pertolongan dengan mendatangi sebuah taman kanak-kanak di wilayah tersebut. Karena korban mengalami pendarahan pada kelaminnya, sejumlah warga akhirnya mengantar korban ke bidan untuk mendapatkan perawatan.

Setelah itu, korban diantar ke sekolah korban dan akhirnya pihak sekolah memberi tahu peristiwa tersebut kepada orangtuanya yang kemudian dilaporkan ke polisi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau