POSO, KOMPAS.com — Obsesi mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, yang juga Ketua Umum Palang Merah Indonesia Pusat, untuk menggerakan ekonomi di daerah yang pernah mengalami konflik berdarah tercapai sudah.
"Ini obsesi saya, bagaimana menggerakan ekonomi di kawasan yang pernah dilanda konflik. Sebab, kalau tidak begini, mana mungkin membangun masyarakat di daerah yang bekas konflik," ujar Kalla saat meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso di Desa Sulewana, Kecamatan Pamona Utara, Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (22/4/2010) siang.
Menurut Kalla, setelah perdamaian diwujudkan, kemudian adalah menggerakan ekonomi penduduknya. "Kalau tidak, apa yang menjadi harapan penduduk?" tanyanya lagi.
Di sela-sela kunjungan kerjanya sehari ke Palu, Sulawesi Tengah, Kalla menyempatkan mampir ke Poso. Kalla membawa sejumlah bankir yang memberikan kredit pembangunan dalam pembangunan PLTA Poso tersebut.
"Saya memang bawa mereka agar mereka melihat progres kemajuan pembangunannya setelah mereka mengucurkan dananya," lanjut Kalla. Investasinya yang dibutuhkan Rp 3 triliun, di antaranya untuk 270 kilometer transmisi senilai 80 juta dollar AS.
Selain obsesi membangun PLTA, obsesi Kalla yang lain adalah membangun PLTA dengan teknologi sendiri, kontraktor sendiri dan dana sendiri. "Semuanya sudah saya wujudkan. Jadi saya tidak omong doang untuk membantu menggerakkan ekonomi masyarakat pascakonflik," ujarnya.
Adik Kalla
PLTA Poso dimiliki keluarga Kalla, dengan nama PT Poso Energy, yang komisaris utamanya Achmad Kalla, adik Jusuf Kalla. Kapasitas PLTA Poso mencapai 180 megawatt (MW). "Kemajuan sekarang mencapai 75 persen dan akhir tahun kita harus selesaikan pembangunannya," tandas Kalla.
Sejauh ini, kredit sindikasinya didanai oleh empat bank, yaitu Bank BNI, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bukopin, dan Bank Mandiri. "Jadi, bukan APBN," ungkap Kalla.
Menurut Kalla, PT Poso Energy akan menjual daya listriknya jauh lebih murah kepada PLN dibandingkan perusahaan lainnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang