AS Minta Suriah Tak "Bandel"

Kompas.com - 22/04/2010, 15:06 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com — Amerika Serikat memperingatkan bahwa semua pilihan telah tersedia jika Suriah memasok rudal Scud ke Hezbollah. Namun, AS tetap ingin melanjutkan dialog dengan Damaskus.

Israel yakin, Suriah memasok rudal-rudal balistik kepada Hezbollah, yang dapat secara dramatis meningkatkan kemampuan milisi Syiah Lebanon itu untuk menyerang negara Yahudi tersebut. Jeffrey Feltman, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Timur Tengah, Rabu, mengatakan, AS sangat khawatir jika Suriah menyerahkan senjata-senjata canggih seperti itu kepada Hezbollah. "Jika laporan-laporan itu benar, kami akan harus meninjau kembali segala cara yang dapat kami lakukan  untuk membuat Suriah mengubah tindakan yang provokatif dan menghasut itu," kata Feltman.

"Amerika Serikat telah menunjukkan pada masa lalu bahwa kami dapat melakukan tindakan," katanya dalam dengar pendapat dengan Kongres. "Saya mengharapkan bahwa semua opsi telah tersedia menyangkut masalah ini."

Namun, Feltman dan para pejabat lainnya mengatakan, mereka masih menyelidiki apa yang disebut pengiriman rudal Scud itu. "Kami terus mempelajari masalah itu," kata juru bicara Departemen Luar Negeri, Philip Crowley. Senator Dianne Feinstein, yang mengetuai  Komite Intelijen Senat, Selasa, mengemukakan kepada AFP, ada kemungkinan besar Hezbollah telah memperoleh rudal-rudal Scud.

Israel melancarkan serangan-serangan di Lebanon tahun 2006 untuk menanggapi lebih dari 4.000 serangan roket Hezbollah yang kurang canggih ketimbang Scud. Perang 34 hari itu menewaskan 1.200 warga Lebanon, sebagian besar sipil, dan lebih dari 160 warga Israel, sebagian besar tentara.

Tuduhan pengiriman rudal-rudal Scud itu muncul ketika AS meningkatkan dialog dengan Suriah. Presiden AS Barack Obama pada Februari lalu mengangkat duta besar pertama AS untuk Damaskus, Robert Ford, untuk periode lima tahun walau Senat belum mengonfirmasikan dia.

Feltman mendukung pendekatan pemerintah Obama itu dengan mengatakan, "Kami tidak akan melakukan pendekatan karena ada satu pengalaman yang tidak menyenangkan. Kami melakukan pendekatan karena itu adalah kepentingan nasional AS."

Ia mengatakan, banyak negara di dunia Arab tidak akan memberikan tanggapan yang baik kepada utusan-utusan AS dalam kunjungan-kunjungan singkat dengan pesan-pesan negatif. "Dengan adaya seorang duta besar, AS dapat bergerak dalam tingkat sangat tinggi secara reguler dan berlanjut," kata Feltman. "Itu akan meningkatkan kemampuan kita untuk menyampaikan pesan kita."

Anggota Kongres Eliot Engel dari Partai Demokrat meminta presiden  mempertimbangkan kembali pengiriman seorang duta besar. Ia menyatakan, setelah penunjukan itu, Presiden Suriah Bashar Al Assad menyambut Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Engel bersama dengan anggota Kongres Mark Kirk dari Illinois mengumumkan, mereka akan mengajukan sebuah resolusi  yang mengusulkan sanksi-sanksi lebih keras terhadap Suriah menyangkut masalah rudal-rudal Scud itu. Hezbollah adalah satu-satunya kelompok yang senjatanya tidak dilucuti setelah perang saudara di Lebanon tahun 1975-1990.

Di Beirut, politisi senior Kristen, Samir Geagea, mengatakan, Hezbollah menguasai kebijakan pertahanan negara itu dan menempatkan Lebanon dalam bahaya.

Suriah lama memegang peran penting di Lebanon, tetapi menarik pasukannya tahun 2005 setelah mendapat kecaman atas pembunuhan mantan perdana menteri pro-Barat, Rafiq Hariri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau