Jalan-jalan

Matraman, Tempat Makan Baru

Kompas.com - 24/04/2010, 09:57 WIB

Oleh M Clara Wresti

KOMPAS — Jalan Matraman Raya adalah jalan protokol utama di kota Jakarta Timur. Namun, jalan ini kurang populer karena dulu sering terjadi tawuran antarkampung. Kini setelah bertahun-tahun aman dari tawuran, Matraman menjadi tempat makan baru dengan berbagai menu.

Jalan Matraman Raya ini termasuk jalan tua di kota Jakarta. Jalan ini dibangun Gubernur Jenderal Daendels untuk dijadikan jalan utama pos. Dulu jalan ini bernama Groote Postweg (Jalan Raya Pos).

Jika dibandingkan dengan jalan protokoler lainnya, Jalan Matraman boleh dibilang agak ketinggalan dari segi pembangunan. Wajahnya tidak banyak berubah. Ada beberapa gedung tinggi, tetapi tidak menjulang seperti di kawasan lain.

Namun, di balik keterlambatan itu, Matraman ternyata sedang bergeliat menjadi tempat makan baru. Setidaknya ada tiga restoran yang cukup terkenal di sana, seperti Rumah Makan Handayani, Restoran Munik, dan Ampera yang cabangnya sudah tersebar di kota-kota besar.

Ketiga restoran ini mengusung makanan asli Indonesia. Namun, yang disajikan tentu berbeda karena mereka memiliki resep rahasia masing-masing yang sama sedapnya.

Munik, misalnya. Restoran ini lahir setelah bumbu instan kemasannya dikenal lebih dulu. Menurut Harlan Rukmana, Manager Restoran Munik, restoran ini memang memakai bumbu-bumbu yang sudah tersedia di pasar modern dan tradisional. ”Sama bumbunya, baik yang kemasan maupun yang kami masak di sini. Yang membuat bumbunya memang chef ahli kami,” kata Harlan.

Di restoran ini, menu yang menjadi favorit pengunjung adalah gulai kepala kakap, patin bakar, gurami pesmol, dan kol nenenek. Untuk minumannya, yang terkenal adalah es kabayan. Isinya, jus mangga yang diberi irisan buah segar, seperti stroberi dan melon.

Ada lagi minuman yang tidak kalah eksotis, yakni jus kedondong. Walaupun jus ini terasa manis gula, cita rasa khas kedondong, yakni asam dan sedikit sepat, tetap dominan. Jus ini terasa segar saat diminum pada siang hari yang panas.

Bagi para tamu yang ingin bersantai, di Munik juga tersedia gazebo untuk menikmati makanan di ruang terbuka. Yang ingin makan sambil bernyanyi, juga tersedia dua ruang karaoke dengan kapasitas 16 dan 25 orang.

”Kami ingin bisa melayani semua tamu. Bisnis, keluarga, ataupun remaja,” kata Harlan.

Favorit remaja
Jika Munik, Handayani, dan Ampera menjadi restoran keluarga dan bisnis, di ujung Jalan Matraman Raya kini dibuka 7-Eleven, jaringan toko serba ada dunia yang berasal dari Amerika. Toko ini menjadi satu dengan gedung Fuji Film karena, baik Fuji Film maupun 7-Eleven, adalah perusahaan yang dimiliki Jepang.

Di Indonesia, keberadaan 7-Eleven boleh dibilang agak terlambat jika dibandingkan dengan Singapura, Thailand, dan Filipina. Walau terlambat, toko ini langsung mendapat tempat di hati remaja. Apalagi toko ini menyediakan 4 tempat nongkrong di luar sehingga bisa see and to be seen. Cocok dengan gaya hidup remaja masa kini.

Sekarang 7-Eleven sedang mempromosikan paket makanan dan minuman. Dengan harga Rp 30.000, konsumen bisa mendapatkan Slurpee (minuman berkarbonasi) ukuran regular dengan hotdog daging sapi dan keripik kentang Pringles ukuran biasa.

Selain Slurpee ini, juga sedang dipromosikan potongan 75 persen untuk makan pagi.

Yang menjadi pengalaman baru bagi konsumen Indonesia, mereka mengambil sendiri dan membumbui makanan yang mereka inginkan. Tidak heran, ketika disantap, ada juga pengunjung yang kecewa. Mereka terlalu bersemangat mengambil bumbu-bumbu yang disediakan, seperti saus mustard, sehingga mengacaukan rasa asli dari makanan itu.

Dengan adanya restoran-restoran yang cukup bergengsi ini, semoga Jalan Matraman Raya tidak terus tertinggal dibanding jalan protokoler lainnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau