Oleh M Clara Wresti
KOMPAS — Jalan Matraman Raya adalah jalan protokol utama di kota Jakarta Timur. Namun, jalan ini kurang populer karena dulu sering terjadi tawuran antarkampung. Kini setelah bertahun-tahun aman dari tawuran, Matraman menjadi tempat makan baru dengan berbagai menu.
Jalan Matraman Raya ini termasuk jalan tua di kota Jakarta. Jalan ini dibangun Gubernur Jenderal Daendels untuk dijadikan jalan utama pos. Dulu jalan ini bernama Groote Postweg (Jalan Raya Pos).
Jika dibandingkan dengan jalan protokoler lainnya, Jalan Matraman boleh dibilang agak ketinggalan dari segi pembangunan. Wajahnya tidak banyak berubah. Ada beberapa gedung tinggi, tetapi tidak menjulang seperti di kawasan lain.
Namun, di balik keterlambatan itu, Matraman ternyata sedang bergeliat menjadi tempat makan baru. Setidaknya ada tiga restoran yang cukup terkenal di sana, seperti Rumah Makan Handayani, Restoran Munik, dan Ampera yang cabangnya sudah tersebar di kota-kota besar.
Ketiga restoran ini mengusung makanan asli Indonesia. Namun, yang disajikan tentu berbeda karena mereka memiliki resep rahasia masing-masing yang sama sedapnya.
Munik, misalnya. Restoran ini lahir setelah bumbu instan kemasannya dikenal lebih dulu. Menurut Harlan Rukmana, Manager Restoran Munik, restoran ini memang memakai bumbu-bumbu yang sudah tersedia di pasar modern dan tradisional. ”Sama bumbunya, baik yang kemasan maupun yang kami masak di sini. Yang membuat bumbunya memang chef ahli kami,” kata Harlan.
Di restoran ini, menu yang menjadi favorit pengunjung adalah gulai kepala kakap, patin bakar, gurami pesmol, dan kol nenenek. Untuk minumannya, yang terkenal adalah es kabayan. Isinya, jus mangga yang diberi irisan buah segar, seperti stroberi dan melon.
Ada lagi minuman yang tidak kalah eksotis, yakni jus kedondong. Walaupun jus ini terasa manis gula, cita rasa khas kedondong, yakni asam dan sedikit sepat, tetap dominan. Jus ini terasa segar saat diminum pada siang hari yang panas.
Bagi para tamu yang ingin bersantai, di Munik juga tersedia gazebo untuk menikmati makanan di ruang terbuka. Yang ingin makan sambil bernyanyi, juga tersedia dua ruang karaoke dengan kapasitas 16 dan 25 orang.
”Kami ingin bisa melayani semua tamu. Bisnis, keluarga, ataupun remaja,” kata Harlan.
Favorit remaja
Jika Munik, Handayani, dan Ampera menjadi restoran keluarga dan bisnis, di ujung Jalan Matraman Raya kini dibuka 7-Eleven, jaringan toko serba ada dunia yang berasal dari Amerika. Toko ini menjadi satu dengan gedung Fuji Film karena, baik Fuji Film maupun 7-Eleven, adalah perusahaan yang dimiliki Jepang.
Di Indonesia, keberadaan 7-Eleven boleh dibilang agak terlambat jika dibandingkan dengan Singapura, Thailand, dan Filipina. Walau terlambat, toko ini langsung mendapat tempat di hati remaja. Apalagi toko ini menyediakan 4 tempat nongkrong di luar sehingga bisa see and to be seen. Cocok dengan gaya hidup remaja masa kini.
Sekarang 7-Eleven sedang mempromosikan paket makanan dan minuman. Dengan harga Rp 30.000, konsumen bisa mendapatkan Slurpee (minuman berkarbonasi) ukuran regular dengan hotdog daging sapi dan keripik kentang Pringles ukuran biasa.
Selain Slurpee ini, juga sedang dipromosikan potongan 75 persen untuk makan pagi.
Yang menjadi pengalaman baru bagi konsumen Indonesia, mereka mengambil sendiri dan membumbui makanan yang mereka inginkan. Tidak heran, ketika disantap, ada juga pengunjung yang kecewa. Mereka terlalu bersemangat mengambil bumbu-bumbu yang disediakan, seperti saus mustard, sehingga mengacaukan rasa asli dari makanan itu.
Dengan adanya restoran-restoran yang cukup bergengsi ini, semoga Jalan Matraman Raya tidak terus tertinggal dibanding jalan protokoler lainnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang