Kelulusan UN di DIY 76,3 Persen

Kompas.com - 25/04/2010, 06:19 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Angka kelulusan ujian nasional sekolah menengah atas/madrasah aliyah/sekolah menengah kejuruan di DI Yogyakarta tahun ini turun drastis, dari 95,1 persen pada tahun 2009 menjadi hanya 76,3 persen pada tahun 2010. Angka kelulusan ini terendah di Pulau Jawa.

Rendahnya tingkat kelulusan UN SMA/SMK mendorong Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi DIY mengimbau setiap kepala sekolah SMA/ SMK dan sederajat agar memeriksa kemungkinan adanya kejanggalan hasil UN siswanya.

Koordinator Pelaksana UN DIY Baskara Aji menjelaskan, jumlah siswa SMA/MA/SMK DIY yang tidak lulus tahun 2010 mencapai 23,7 persen dari total peserta 39.938 siswa (terdiri dari 19.443 siswa SMA/MA dan 20.495 siswa SMK). Dengan demikian, siswa yang tidak lulus sekitar 8.500 orang.

”Ini (imbauan) untuk mengantisipasi kemungkinan kesalahan proses pemindaian dan koreksi lembar jawab UN, yang mengakibatkan siswa yang seharusnya lulus menjadi tidak lulus,” kata Baskara Aji pada rapat dan pembagian surat keterangan hasil UN bersama semua kepala SMA/ MA/SMK se-DIY di Yogyakarta, Sabtu (24/4/2010).

Menurut Baskara, kejanggalan itu, misalnya, ada murid yang pandai, tetapi mendapat nilai jelek atau sebaliknya yang kurang pandai mendapat nilai bagus. Muncul juga kejanggalan-kejanggalan lain. ”Kesalahan pada proses pemindaian dan koreksi hanya hasil menduga-duga. Belum tentu benar,” kata Baskara Aji.

Kejujuran tertinggi

Namun, Ketua Pelaksana UN Pusat Djemari Mardapi, yang dihubungi Kompas, menyatakan, turunnya angka kelulusan DIY dimungkinkan karena meningkatnya kejujuran dalam UN tahun ini.

Berdasarkan data Depdiknas tahun 2009, tingkat kejujuran pelajar DIY tertinggi di seluruh Indonesia. ”Kami belum melihat hasilnya secara rinci. Namun, tingginya angka ketidaklulusan ini bisa jadi berhubungan dengan tingkat kejujuran DIY yang terus meningkat,” katanya.

Secara terpisah, Ketua DPRD DIY Yoeke Indra Agung Laksana menyatakan, tingginya angka ketidaklulusan itu amat memprihatinkan. Yoeke menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pendidikan di DIY.

Tanpa ujian pengganti

Dari Surabaya dilaporkan, sebanyak 16.337 siswa SMA/MA/ SMK di Jawa Timur, tahun ini tidak lulus UN dan harus mengulang pada 10 Mei.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim Suwanto menjelaskan, 6.555 atau 3,17 persen dari 216.595 siswa SMA/MA harus mengikuti ujian ulangan. Adapun siswa SMK yang tidak lulus pada UN utama maupun susulan mencapai 7,072 persen dari 138.313 atau 9.782 orang.

”Jatim tidak termasuk daerah yang harus melakukan UN pengganti tahun ini. Kita perlu bersyukur sebab UN sudah diupayakan jujur dan kredibel,” kata Suwanto pada penyerahan daftar kolektif hasil ujian nasional tahun 2010 dan persiapan UN ulangan dengan kepala dinas pendidikan se-Jatim, Sabtu kemarin.

Koordinator Pengawas dan Tim Pemantau Independen UN 2010 Jatim Prof Syafsir Akhlus menilai sesungguhnya tidak berarti Jatim bersih dari dugaan kebocoran soal. Berdasarkan laporan yang masuk, pelanggaran UN terjadi di lebih dari 20 sekolah dan adanya keseragaman jawaban yang salah.

Di Salatiga, Jawa Tengah, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal saat meninjau Gedung Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, menyatakan, sekolah yang siswanya tidak lulus UN diharapkan membantu siswa agar lebih siap dalam menghadapi UN ulangan.(IRE/RWN/INA/GAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau