Kecap Bisa Bikin Perut Melar

Kompas.com - 26/04/2010, 11:09 WIB

KOMPAS.com - Beberapa jenis makanan yang akrab dengan keseharian kita, ternyata menjadi penyebab mengapa perut kita menjadi melar. Membuncitnya perut kerapkali hanya bersifat sementara, akibat rasa kembung setelah mengonsumsi makanan tersebut. Yang lebih parah adalah jika kandungan pada makanan tersebut bisa mengakibatkan gangguan kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

Berikut adalah tiga jenis makanan yang menurut Kathy McManus, RD, direktur departemen nutrisi di Brigham and Women’s Hospital di Boston, bisa menyebabkan perut kita buncit:

Popcorn
Cemilan yang berbahan dasar jagung ini sebenarnya cukup sehat, karena kadar seratnya tinggi dan rendah kalori. Yang membuatnya tidak sehat adalah ketika Anda meminta tambahan lemak jenuh seperti mentega atau garam, saat membelinya di bioskop. Kadar garam yang tinggi pada popcorn bisa membuat perut kembung akibat retensi air. Dalam jangka panjang, paduan garam dan lemak bisa meningkatkan kolesterol, yang kelak menimbulkan risiko penyakit jantung (seperti serangan jantung atau stroke).

Kecap
Sekadar informasi, satu sendok makan kecap rata-rata mengandung 1.000 mg sodium. Artinya, kandungan garam pada kecap terbilang cukup tinggi. Nah, sama seperti popcorn, kadar garam yang tinggi bisa mengakibatkan penyimpanan air yang menyebabkan perut kembung.

Meskipun demikian, para peneliti mengatakan bahwa ketika Anda menggantikan garam dengan kecap untuk membumbui masakan, Anda bisa mengurangi kandungan sodiumnya secara total hingga 50 persen. Menurut teori para peneliti tersebut, cita rasa dan aroma kecap yang semakin kompleks mampu menciptakan sensasi rasa asin. Dengan demikian, Anda tetap dapat menikmati hidangan tanpa terlalu banyak tambahan garam.

Buah-buahan kering
Buah-buahan kering yang kerap ditambahkan pada oatmeal memang tinggi kadar seratnya, namun kadar gulanya juga cukup tinggi. Kandungan kalori dan gulanya bahkan lebih banyak daripada buah segar. Hal ini disebabkan rasa asam pada buah seperti cranberry, blueberry, atau strawberry, sehingga gula ditambahkan untuk mengalahkan rasa asam tersebut.

Penyebab lain mengapa buah kering mengandung kalori lebih tinggi adalah karena proses dehidrasi yang memindahkan banyak kandungan air yang ada pada buah tersebut. Kandungan air itu yang menyebabkan buah segar berukuran lebih besar daripada buah kering. Jadi, ketika buah dikeringkan, Anda butuh potongan lebih banyak untuk mencukupi porsi yang dibutuhkan.

Contohnya saja, sebutir anggur dan sebutir kismis memiliki 7 kalori. Namun secangkir anggur hanya mengandung sekitar 60 kalori, sedangkan secangkir kismis mengandung 400 kalori! Hal ini tidak terjadi karena perusahaan kismis menambahkan gula, tetapi karena tanpa air, kismis jadi mengerut dan menyisakan banyak ruang pada cangkir yang Anda gunakan. Semakin banyak kismis yang termuat dalam satu cangkir, membuat secangkir kismis menyediakan lebih banyak gula dan kalori daripada secangkir anggur.

Namun, intinya, selama Anda tidak makan berlebihan dan selalu mengingat apa yang membuat makanan tersebut tidak sehat, Anda tentu akan terhindar dari ancaman kesehatan yang mengikutinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau