Rusuh drydocks

Kapolda Kepri: Jangan Dibesar-besarkan

Kompas.com - 26/04/2010, 19:06 WIB

TANJUNGPINANG, KOMPAS.com - Kapolda Kepulauan Riau Brigjen Pol Pudji Hartanto mengimbau wartawan tidak membesar-besarkan kerusuhan yang terjadi di kawasan PT Drydocks Graha World, Tanjunguncang, Batam. "Kerusuhan itu hanya terjadi di kawasan PT Drydocks, jangan dibuat seolah-olah terjadi di seluruh Batam," ujar Pudji di Tanjungpinang, Senin (26/4/2010).

Pemberitaan terlalu membesar-besarkan permasalahan yang terjadi di PT Drydocks dapat menimbulkan kondisi tidak kondusif. Sebaliknya, wartawan memiliki peranan yang besar dalam menciptakan suasana yang kondusif di Kepulauan Riau, terutama pascakerusuhan yang terjadi di PT Drydocks.

Permasalahan di perusahaan itu, menurut dia, masih ditangani oleh Poltabes Balerang, sementara Polda Kepulauan Riau belum turun tangan. "Kami meyakini Poltabes Balerang dapat mengatasinya," katanya.

Akibat pemberitaan yang tidak objektif, Polri telah menetapkan Batam sebagai satu dari tiga daerah yang bermasalah dan perlu mendapat pengamanan khusus. Padahal kenyataannya tidak demikian, karena Batam termasuk kota yang kondusif. "Saya menyayangkan kondisi keamanan di Batam dikategorikan sama seperti Tanjung Priok dan Makassar. Namun permasalahan yang sebenarnya telah saya sampaikan kepada Kapolri," katanya.

Dari Batam dilaporkan, PT Drydocks yang direncanakan akan mulai beroperasi pada hari ini ditunda hingga waktu yang belum diketahui. "Betul, operasional ditunda karena perbaikan belum selesai," kata Kapoltabes Barelang Kombes Pol Leonidas Braksan usai bertemu manajemen Drydocks di Batam.

Kerusakan bangunan dan perlengkapan kerja di galangan kapal PT Drydocks World Graha mencapai 75 persen. "Secara kasat mata, hampir 75 persen rusak atau terbakar," kata Leonidas.

Selain bangunan dan kendaraan, perlengkapan kerja seperti skema pembuatan kapal juga terbakar, sehingga operasional pabrik kapal belum bisa dimulai. "Memang rencananya Senin ini, tapi ditunda karena banyak yang masih rusak," kata dia.

Sementara itu, sekitar 6.000 pekerja Drydocks Graha World memadati sekitar galangan kapal pada sekitar pukul 07.00 WIB. Para pekerja berharap sudah bisa mulai bekerja Senin pagi, seperti yang dikatakan manajemen beberapa waktu lalu.

Kapoltabes melakukan pendekatan kepada para pekerja menjelaskan bahwa operasional pabrik belum bisa dimulai karena banyak alat yang rusak atau terbakar. Pekerja dapat memahami dan langsung bubar. Tidak ada gejolak saat pembubaran massa. Para pekerja membubarkan diri secara tertib.

Seorang pekerja mengaku kecewa tidak bisa mulai bekerja pada Senin. "Saya khawatir tidak digaji, karena penggajian saya berdasarkan jam kerja. Kalau begini, dari mana saya cari nafkah untuk keluarga," katanya.

Sementara itu, Chief Executive Officer Drydocks World Asia Tenggara, Denis Welch mengharapkan kondisi kerja di Drydocks World Graha di Batam, dapat segera pulih agar dapat menyelesaikan pesanan sesuai jadwal. "Kami sedang mengerjakan beberapa proyek yang hanya bisa dioperasikan di wilayah tertentu di dunia," katanya.

Welch mengatakan sudah berkomunikasi dengan pimpinan dua pemesan dari luar negeri supaya tidak khawatir sebab pengerjaan akan terus berlanjut dan selesai sesuai dengan jadwal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau