Singh dan Karzai Bicarakan Kekerasan

Kompas.com - 27/04/2010, 01:42 WIB

NEW DELHI, KOMPAS.com - PM India Manmohan Singh dan Presiden Afghanistan Hamid Karzai bertemu di New Delhi, Senin (26/4/2010) dan sepakat akan menangani aksi kekerasan gerilyawan yang mengancam stabilitas kawasan itu.

Perudingan-perudingan itu dilakukan dua bulan setelah sembilan warga India tewas akibat serangan bunuh diri di Kabul yang para pejabat India tuduh dilakukan kelompok Lashkar-e-Taiba (LeT) yang berpangkalan di Pakistan.

India banyak terlibat dalam pembangunan kembali dan usaha-usaha bantuan di Afghanistan dan memberikan bantuan lebih dari satu miliar dolar sejak pemerintah Taliban digulingkan oleh invasi pimpinan AS tahun 2001.

"Kami membicarakan masalah terorisme, yang mengancam kawasan kami. Presiden Karzai menjamin, pemerintah Afghanistan akan melakukan segala tindakan bagi keamanan warga India di Afghanistan," kata Singh.

Para pejabat di New Delhi mengatakan kelompok seperti LeT secara diam-diam mendapat dukungan militer Pakistan dan menuduh para gerilyawan itu melancarkan serangan terhadap warga India di Kabul sebagai bagian dari satu wilayah perang di Asia Selatan.

Tanpa menyebutkan nama Pakistan, Singh mengatakan serangan di Kabul, Februari lalu adalah perbuatan mereka yang tidak menginginkan Afghanistan menjadi negara yang kuat, independen dan pluralistik.

Ia menegaskan serangan-serangan itu tidak akan mengganggu komitmen India pada negara itu.

India juga khawatir atas rencana Afghanistan untuk melakukan perundingan dengan kelompok Taliban yang moderat - satu kebijakan yang didorong oleh banyak anggota koalisi internasional di Afghanistan.

Karzai, dalam perjalanannya menghadiri satu pertemuan para pemimpin Asia Selatan di Bhutan yang akan dimuai Rabu, mengatakan kedua pemimpin itu juga membicarakan tentang jirga perdamaian yang menurut rencana akan diselenggarakan Mei untuk menyatukan semua pemimpin suku Afghanistan.

Ia mengatakan pertemuan itu akan memberikan anjuran bagaimana merekonsiliasi kelompok Taliban dan gerakan-gerakan garis keras lainnya yang bukan bagian dari Al Qaida, yang bukan bagian dari satu jaringan teroris.

India, yang memelihara hubungan yang hangat dengan AS di bawah mantan Presiden George W.Bush, meragukan rencana Presiden Obama untuk mundur dari Afghanistan mulai tahun depan.

India khawatir AS akan memusatkan perhatian lebih besar bagi stabilitas Pakistan ketimbang ancaman keamanan yang Pakistan timbulkan pada India.

Kedutaan besar India di Kabul diserang bom Oktober lalu dan Juli 2008, yang menurut para pengamat sebagai kampanye yang disengaja untuk memaksa India mundur.

New Delhi membantu dana kepada Afghanistan dan menjadi satu mitra berpengaruh pemerintah Kabul-- untuk menghadapi kekhawatiran terhadap Islambad yang meningkat.

India juga menuduh LeT terlibat dalam serangan-serangan di Mumbai November 2008 yang menewaskan 166 orang dan memperburuk hubungan dengan Pakistan tetangganya. LeT dan pemerintah Pakistan membantah terlibat dalam serangan serangan itu.

India, yang berulang-ulang mendesak masyarakat internasional untuk "tetap membantu" Afghanistan, khawatir bahwa Pakistan dan Taliban dapat memegang peran penting di negara itu apabila pasukan asing mulai meninggalkan negara itu.

Sekitar 4.000 warga India membantu membangun jalan-jalan, proyek-proyek sanitasi dan tiang-tiang listrik di Afghanistan. India juga membangun gedung parlemen baru Afghanistan.

India yang berpenduduk mayoritas Hindu dan Pakistan yang berpenduduk mayoritas Muslim terlibat tiga kali perang sejak anak benua itu terbagi dua tahun 1947 dan tetap bertikai menyangkut wilayah Kashmir yang disengketakan itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau