Sabu Raijua Gagal Panen, NTB Kekeringan

Kompas.com - 27/04/2010, 04:20 WIB

Kupang, Kompas - Gagal panen komoditas pertanian terjadi di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Dari 76 desa di kabupaten itu, hanya satu desa, yaitu Desa Imadakey di Kecamatan Sabu Tengah, yang berhasil panen jagung dan kacang-kacangan di areal 4 hektar.

Penjabat Bupati Sabu Raijua Thobias Uly, di Kupang, Senin (26/4), menyatakan, hasil panen di Desa Imadakey dengan luas areal 4 hektar itu hanya 6 ton. Jumlah ini hanya mencukupi kebutuhan 3-4 bulan ke depan bagi 245 keluarga atau sekitar 1.225 jiwa di desa itu.

Menurut Uly, persoalan gagal panen terjadi di hampir semua kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT). Akan tetapi, kondisi di Sabu Raijua lebih serius karena transportasi dari dan ke daerah itu sangat terbatas.

Beras cadangan

Mengantisipasi ancaman rawan pangan sembilan bulan ke depan atau selama musim kemarau, ungkap Uly, pemerintah telah mengalokasikan beras untuk warga miskin (raskin) sebanyak 6.000 ton. Selain itu, juga ada cadangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT yang dikelola kabupaten sebanyak 100 ton.

Namun, jumlah cadangan makanan tersebut tidak cukup untuk mengatasi ancaman rawan pangan selama sembilan bulan ke depan.

Wakil Gubernur NTT Esthon Foenay, dua pekan lalu di Kupang, mengatakan, hampir semua kabupaten di NTT kekeringan akibat hujan tidak merata. Saat itu terdapat 33 kecamatan di tiga kabupaten yang telah melaporkan terancam rawan pangan ke Badan Penanggulangan Bencana Provinsi. Diperkirakan 49.768 keluarga (248.840 jiwa) terkena dampak kekeringan tersebut.

NTB kekeringan

Di provinsi tetangga NTT, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), sedikitnya 56.623 hektar tanaman lima komoditas pertanian mengalami kekeringan karena rendahnya curah hujan.

Pending Dadih Permana, Kepala Dinas Pertanian NTB, Senin kemarin di Mataram, menyebutkan, komoditas yang kekeringan antara lain adalah padi gogo yang ditanam di sawah tadah hujan, jagung, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau.

Kondisi kekeringan di areal seluas 15.498 hektar tergolong ringan, 17.648 hektar kekeringan sedang, dan 12.529 hektar kekeringan berat. Komoditas yang gagal panen (puso) menca- pai 10.948 hektar, terdiri atas padi gogo 4.649 hektar, jagung 5.995 hektar, kacang kedelai 116 hektar, dan kacang hijau 188 hektar.

Hujan yang turun beberapa hari pada pekan lalu menyelamatkan komoditas di areal yang mengalami kekeringan dengan kondisi ringan dan sedang itu. Jagung di areal tersebut bisa dipanen 20 persen hingga 40 persen karena saat itu tongkol jagung sudah berbiji.

Untuk membantu petani mengatasi kekeringan, Pemerintah Provinsi NTB memberikan bantuan benih kepada petani dan memberikan jatah hidup sampai petani bisa menanami sawahnya kembali.

Dadih optimistis, beberapa komoditas di beberapa lokasi masih dapat diselamatkan.

Menurut Dadih, berdasarkan ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Mataram, dalam dua bulan mendatang terjadi fenomena La Nina yang memungkinkan hujan akan terjadi. (RUL/KOR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau