Penjabat Bupati Sabu Raijua Thobias Uly, di Kupang, Senin (26/4), menyatakan, hasil panen di Desa Imadakey dengan luas areal 4 hektar itu hanya 6 ton. Jumlah ini hanya mencukupi kebutuhan 3-4 bulan ke depan bagi 245 keluarga atau sekitar 1.225 jiwa di desa itu.
Menurut Uly, persoalan gagal panen terjadi di hampir semua kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT). Akan tetapi, kondisi di Sabu Raijua lebih serius karena transportasi dari dan ke daerah itu sangat terbatas.
Mengantisipasi ancaman rawan pangan sembilan bulan ke depan atau selama musim kemarau, ungkap Uly, pemerintah telah mengalokasikan beras untuk warga miskin (raskin) sebanyak 6.000 ton. Selain itu, juga ada cadangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT yang dikelola kabupaten sebanyak 100 ton.
Namun, jumlah cadangan makanan tersebut tidak cukup untuk mengatasi ancaman rawan pangan selama sembilan bulan ke depan.
Wakil Gubernur NTT Esthon Foenay, dua pekan lalu di Kupang, mengatakan, hampir semua kabupaten di NTT kekeringan akibat hujan tidak merata. Saat itu terdapat 33 kecamatan di tiga kabupaten yang telah melaporkan terancam rawan pangan ke Badan Penanggulangan Bencana Provinsi. Diperkirakan 49.768 keluarga (248.840 jiwa) terkena dampak kekeringan tersebut.
Di provinsi tetangga NTT, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), sedikitnya 56.623 hektar tanaman lima komoditas pertanian mengalami kekeringan karena rendahnya curah hujan.
Pending Dadih Permana, Kepala Dinas Pertanian NTB, Senin kemarin di Mataram, menyebutkan, komoditas yang kekeringan antara lain adalah padi gogo yang ditanam di sawah tadah hujan, jagung, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau.
Kondisi kekeringan di areal seluas 15.498 hektar tergolong ringan, 17.648 hektar kekeringan sedang, dan 12.529 hektar kekeringan berat. Komoditas yang gagal panen (puso) menca-
Hujan yang turun beberapa hari pada pekan lalu menyelamatkan komoditas di areal yang mengalami kekeringan dengan kondisi ringan dan sedang itu. Jagung di areal tersebut bisa dipanen 20 persen hingga 40 persen karena saat itu tongkol jagung sudah berbiji.
Untuk membantu petani mengatasi kekeringan, Pemerintah Provinsi NTB memberikan bantuan benih kepada petani dan memberikan jatah hidup sampai petani bisa menanami sawahnya kembali.
Dadih optimistis, beberapa komoditas di beberapa lokasi masih dapat diselamatkan.
Menurut Dadih, berdasarkan ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Mataram, dalam dua bulan mendatang terjadi fenomena La Nina yang memungkinkan hujan akan terjadi.