Sisi lain istana

Takbir, Petugas di Istana Negara Panik...

Kompas.com - 27/04/2010, 08:28 WIB

Oleh: Elly Roosita

KOMPAS.com — Suasana halaman depan Istana Negara Jakarta, siang itu, Jumat, 2 Agustus 2002, sedikit lebih ramai dari biasanya. Puluhan wartawan, fotografer, dan juru kamera televisi dari media massa nasional bergerombol menunggu kehadiran Menteri Luar Negeri AS saat itu, Colin Powell.

Siang itu, Menteri Luar Negeri AS era Presiden George W Bush tersebut dijadwalkan bertemu dengan Presiden Megawati Soekarnoputri di Istana.

Suasana di halaman Istana Negara siang itu agak berbeda dari hari-hari biasa. Para pria bule bersetelan jas hitam, beberapa di antaranya berkacamata hitam, mondar-mandir di teras depan Istana. Mereka petugas keamanan AS yang menyertai kedatangan Colin Powell.

Gaya para petugas keamanan tersebut menarik perhatian karena selama era Presiden Megawati Soekarnoputri, suasana Istana Negara tak pernah ”seserius” itu dalam pengamanan.

Sekitar pukul 12.30, iring-iringan mobil Menlu Colin Powell memasuki halaman Istana Negara. Colin Powell, didampingi Duta Besar AS kala itu, Ralp L Boyce, turun dari mobil BMW dengan nomor CD-12-01 dan langsung menaiki tangga teras depan Istana Negara, masuk ke dalam Istana. Rupanya rombongan Menlu AS itu juga membawa serombongan wartawan AS.

Ketika Colin Powell dan Megawati mengadakan pertemuan di dalam Istana, tiba-tiba petugas keamanan AS yang mengiringi kedatangan Colin Powell meminta wartawan Indonesia tidak boleh berada di teras depan Istana Negara. Padahal, sebelumnya, Kepala Biro Pers dan Media Sekretariat Presiden Garibaldi Sujatmiko telah menetapkan wartawan Indonesia bisa lebih dekat meliput pertemuan Presiden RI dengan Menlu AS. Lho, ini istana siapa, ini negeri siapa?

Harapan mendapat berita eksklusif pun perlahan pupus karena mana mungkin mengajukan pertanyaan kepada Menlu AS dari jarak yang relatif jauh, apa harus berteriak. Kalaupun berteriak, apa terdengar karena para wartawan asing yang datang bersama rombongan Menlu AS berjarak lebih dekat dengan Colin Powell karena mereka tetap diizinkan berada di teras Istana.

Tepat pukul 13.38, pertemuan Presiden Megawati dengan Menlu AS Colin Powell berakhir. Saat Powell keluar dari pintu Istana, tiba-tiba ada teriakan ”Allahu akbar”, ”Allahu akbar” di halaman depan Istana. Seiring dengan teriakan itu, dengan sigap para petugas keamanan AS menggiring Colin Powell masuk ke BMW CD-12-01 dan melesat meninggalkan halaman Istana. Keterangan pers batal. Wartawan asing yang masih berada di teras Istana terbengong-bengong. Mereka gagal mendapatkan berita eksklusif, senasib dengan wartawan Indonesia.

Ternyata, takbir itu dikumandangkan oleh wartawan yang meminjam topi putih, yang biasa dipakai oleh orang yang baru pulang dari Tanah Suci, milik juru kamera TPI. Wartawan itu membuat petugas keamanan Menlu AS belingsatan dan panik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau