Bandung, Kompas - Semangat bekerja para pegawai Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat I menurun sejak kasus Gayus Tambunan merebak. Mereka menerima stigma dari masyarakat karena dianggap berperilaku tak berbeda dengan Gayus.
Kepala Kanwil DJP Jabar I Dedi Rudaedi di Bandung, Senin (26/4), mengatakan, semangat bekerja para pegawainya harus dibangkitkan. Tak hanya bekerja, semangat mengenakan identitas sebagai pegawai pajak juga kendur. Mereka kerap enggan memakai identitasnya di tempat umum. Pegawai pajak kadang-kadang mendapatkan sindiran atau cemoohan dari masyarakat.
Dampak lain dari stigma, misalnya di salah satu desa di Kabupaten Garut, semua surat pemberitahuan pajak terutang dan pajak bumi bangunannya dikembalikan. "Mereka yang mengembalikan tak mau bayar pajak. Mereka menganggap, buat apa bayar kalau dimakan pegawai pajak," ujarnya.
Fenomena itu tak hanya terjadi di Jabar, tetapi juga di Indonesia. Di Jakarta, misalnya, beberapa pegawai yang mengenakan seragam pajak diteriaki maling. "Di Jakarta, kalau bus sampai di gedung Direktorat Jenderal Pajak, kondekturnya teriak Gayus... Gayus...," papar Dedi.
Tak mudah
Jumlah pegawai Kanwil DJP Jabar I sebanyak 1.457 orang dengan wilayah kerja mencakup Kabupaten Garut, Bandung, Sumedang, Bandung Barat, Purwakarta, Tasikmalaya, Ciamis, Cianjur, serta Kota Cimahi, Bandung, Tasikmalaya, Sukabumi, dan Banjar. "Di Indonesia terdapat 32.000 pegawai pajak yang tak mudah dipantau semua dengan berbagai karakternya," kata Dedi.
Karena itu, DJP Jabar I bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri Jabar mengembalikan citra pegawai pajak. "Pihak Kadin Jabar menjelaskan pentingnya pajak untuk pembangunan," katanya.
Jadwal dan tempat pertemuan untuk memulihkan penilaian masyarakat itu masih diatur. Dedi meminta pegawainya tetap semangat bekerja. "Sekarang, pajak memang berada di titik nadir. Kalau ada Gayus-Gayus lain, mari kita hukum," ujarnya.
Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal Sutisno mengatakan, pihak DJP sedang diuji dengan adanya kasus Gayus. Peristiwa itu menimbulkan dampak yang kurang baik. Ia meminta kasus Gayus yang menjadi pengalaman pahit itu tak terulang karena sangat terkait dengan kepercayaan masyarakat. (bay)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang