Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, jelas tak kekurangan petani. Namun, salah satu hasil pertanian di sana, bawang merah, lebih dinikmati warga Kecamatan Sanden. Petani-petani kecamatan tetangga itu menyewa dan menggarap pertanian bawang merah di Bambanglipuro.
Cerita itu datang dari Subandi, ketua kelompok tani bawang merah Dusun Tegalrejo, Srigading, Sanden. Ia bersama anggota kelompok adalah petani-petani tetangga tadi.
Alasan seputar keengganan petani Bambanglipuro bertani bawang merah bisa jadi mewakili kisah khas budaya bertani di Indonesia, yang kebanyakan hanya menanam padi. Mereka enggan menanam salah satu komoditas unggulan Bantul itu karena satu alasan: risiko tinggi.
Tak heran, hingga saat ini tak semua kecamatan di Bantul menghasilkan bawang merah. Mengacu publikasi Badan Pusat Statistik Bantul (2008), bawang merah hanya diusahakan pada sembilan dari total 17 kecamatan di kabupaten ini (lihat grafis).
Sepanjang 13 tahun terakhir, luas panen bawang merah Bantul rata- rata 1.731 hektar per tahun, atau 8 persen dari total (23.800 hektar) luas sawah dan kebun di kabupaten ini.
Soal risiko
Bertanam bawang merah memang butuh modal besar. Paling tidak, petani harus menyiapkan dana hingga Rp 15 juta untuk beli bibit, bayar tenaga pengolah lahan, pupuk, dan biaya perawatan. Untuk bertanam padi, petani cukup mengeluarkan modal Rp 6 juta.
Kendati demikian, risiko itu sebanding dengan keuntungan yang diperoleh. Subandi mengakui, saat panen setidaknya ia dan anggota kelompoknya mendapatkan 15 ton bawang merah per hektar.
Dengan harga jual bawang merah Rp 6.000 per kilogram, setiap hektar lahan bawang merah tersebut menghasilkan pendapatan minimal Rp 90 juta. Mengenai harga jual produksi padi dengan hasil panen maksimal 7,7 ton per hektar, setiap kali panen, para pemilik lahan "hanya" menghasilkan Rp 20 juta (asumsi harga gabah Rp 2.600 per kilogram).
Melalui luasan lahan yang sama, selisih pendapatan kotor petani bawang merah dan padi mencapai Rp 70 juta. Memang risikonya berbeda. Risiko kegagalan panen bawang merah yang lebih tinggi ketimbang padi saat musim hujan bisa disiasati dengan penanaman saat kemarau. Saat kemarau, Subandi dan anggotanya mampu memproduksi bawang merah lebih besar lagi, mencapai 22 ton per hektar. Sebagian besar bawang merah itu justru ditanam di lahan pasir pesisir selatan (Kecamatan Srandakan, Kretek, dan Sanden), dengan luas total 125 hektar.
Dari bawang merah, Subandi bersama 88 anggota kelompoknya kini memiliki 300 ekor sapi. Anak-anak mereka bisa mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Fakta yang hampir mustahil bagi petani dengan kepemilikan lahan sama. Terhambat kultur
Kendati prospek cerah bertanam bawang merah dibuktikan lewat kesuksesan Subandi dan kawan-kawannya, tetap saja tak banyak petani berani meniru langkah itu.
Kepala Dinas Pertanian Bantul Edy Suharyanto menilai ada persoalan di sana. "Petani umumnya tidak mudah meniru bertanam bawang merah karena mereka sendiri tidak percaya diri," ujarnya.
Faktor ketidakpercayaan diri petani bisa jadi bukan karena alasan risiko gagal panen semata. Di tengah ketidakpastian harga pupuk, harga gabah, bertebarannya tengkulak, dan menjamurnya impor produk pertanian, memperbesar tekanan kehidupan petani.
Sementara, dalam kebiasaan petani, gagal panen berarti "kiamat" karena mereka sudah mengerahkan semua modal dan kemampuan pada setiap masa tanam. Persoalannya, petani yang diombang-ambingkan faktor eksternal itu terjadi setiap kali, seperti lingkaran setan yang tak terpecahkan. Padahal, semua persoalan terang benderang di depan mata pemerintah.
Para petani yang kesulitan atau takut mengakses modal lebih besar atau inovasi akhirnya tetap pada jalur bertani pola lama. Mereka menanam apa yang selama ini memberi kepastian penghasilan, meskipun yang didapat mungkin sebatas memenuhi tuntutan perut kenyang. Tak sepenuhnya merdeka. (BIM/Litbang Kompas)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang