Penduduk Kuta Tak Terlibat Film Gigolo

Kompas.com - 28/04/2010, 03:51 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com--Bendesa Adat Kuta, Bali, Gusti Ketut Sudira, menegaskan bahwa penduduk di wilayahnya tidak ada yang terlibat dalam pembuatan film yang mengisahkan sepak terjang para gigolo di kawasan pantai yang tersohor hingga mancanegara itu.

"Setelah kami telusuri, tidak ada warga kami yang terlibat baik selaku kru maupun aktor yang berperan dalam film yang diberi judul `Cowboys in Paradise` itu," kata pemimpin desa adat di Kuta tersebut, Selasa.

Cowboys in Paradise adalah film dokumenter yang mengisahkan praktik para gigolo atau lelaki tuna susila (LTS) yang siap melayani hasrat seks para turis wanita yang berwisata di Pantai Kuta.

Film yang memanfaatkan lokasi pengambilan gambar di pantai berpasir putih itu, merupakan garapan Amit Virmani, sutradara keturunan India yang kini menetap di Singapura.

Para gigolo yang tampil dalam film tersebut adalah pria yang rata-rata berkulit hitam mengkilap setelah lama berjemur di bawah terik matahari, sebagai mana layaknya "beach boy" yang kerap terlihat bercengkrama dengan turis di Pantai Kuta.

"Cowboys in Paradise" menjadi heboh di Bali setelah film yang meraih sejumlah penghargaan dalam Korean International Documentary Festival itu, yang sekarang tersebar di Internet.

Bendesa Adat Sudira tidak menampik kalau di wilayahnya memang ada praktik para gigolo yang selama ini melayani turis wanita dari sejumlah negara.

"Praktik itu memang ada, bahkan sudah tampak sejak kurang lebih 20 tahun silam, yakni sejak Kuta mulai berkembang menjadi sebuah destinasi wisata favorit dunia," ucapnya.

Namun demikian, Sidira membantah kalau para LTS itu adalah pria yang berasal dari Pulau Dewata, terlebih dari daerah Kuta sendiri.

"Tidak, tidak ada warga pria kami yang berpraktik mesum seperti itu," kata Sidira dengan menambahkan, sejauh ini yang berprofesi sebagi pria "penghibur" adalah orang yang berasal dari luar Bali.

Senada dengan Sudira, Ketua Satgas Pantai Kuta Gusti Ngurah Tresna menyatakan, dari razia yang digelar dua hari ini, tak satu pun ada pria lokal yang terjaring berpraktik sebagai gigolo.

Dikatakan, sedikitnya 20 pria yang terjaring razia, semuanya berasal dari daerah luar Bali. "Jadi kami tegaskan tidak ada `local boy` yang telah berpraktik selaku `cowboys` di Kuta," ujar Tresna.

Baik Tresna maupun Sidira senada mengatakan, tidak hanya dalam praktik keseharian, namun dalam adegan film "Cowboys in Paradise" pun tidak terlihat diperankan oleh aktor yang berasal dari Kuta.

"Saya cermati setiap adegan yang saya saksikan lewat Internet, tidak ada orang Kuta-nya," ujar Sudira menjelaskan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau