JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Rabu (28/4/2010) pagi, turun, setelah sebelumnya menguat, karena pelaku pasar mengikuti kebijakan pasar saham Amerika Serikat yang melemah akibat kekhawatiran atas krisis utang Yunani.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar melemah 18 poin menjadi Rp 9.018-Rp 9.028 per dollar AS dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya, Rp 9.000-Rp 9.010.
Pengamat pasar uang, Farial Anwar, di Jakarta, Rabu, mengatakan, posisi rupiah saat ini dinilai cukup baik yang sejak dua minggu bergerak dalam kisaran yang sempit meski sempat berada di bawah angka Rp 9.000 per dollar AS. "Kami memperkirakan rupiah masih dapat kembali di bawah level Rp 9.000 per dollar AS karena asupan dana asing ke pasar makin meningkat," katanya.
Farial Anwar, yang juga Direktur Currency Management Group, mengatakan, peluang rupiah untuk menguat hingga jauh di bawah level 9.000 masih cukup besar meski Bank Indonesia terus menjaga di pasar agar kenaikan itu tidak terlalu cepat. "Namun, apakah BI akan terus berada di pasar menghadang tekanan positif pasar terhadap rupiah yang cenderung menguat," ucapnya.
Menurut dia, apabila tekanan positif terus memicu rupiah, BI kemungkinan akan menyerahkan pada mekanisme pasar sejauh mana rupiah terus bergerak naik. "BI kemungkinan akan masuk pasar secara selektif apabila saatnya melakukan intervensi," katanya.
Pergerakan rupiah yang menguat lebih baik dibiarkan saja karena apabila ada faktor negatif yang menekan, rupiah tidak akan terpuruk lebih jauh. "Kami harapkan rupiah akan terus menguat hingga mencapai titik keseimbangan dan pada saatnya nanti akan kembali berada di level Rp 9.000-Rp 9.500 per dollar AS," ucapnya.