BANJARMASIN, KOMPAS.com- Sedikitnya 2.750 hektar atau sekitar 15 persen dari total 18.460 hektar kawasan mangrove yang ada di luar kawasan hutandi Kalimantan Selatan rusak. Akibatnya terjadi abrasi di pantai karena tidak ada lagi yang menahan gempuran air laut.
Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalsel Rakhmadi Kurdi, Rabu (28/4/2010), di Banjarmasin, Kalsel, mengemukakan, kerusakan itu disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain penebangan mangrove untuk rumah, alih fungsi lahan dari mangrove menjadi tambak ikan, dan pembangunan pelabuhan khusus (pelsus) batu bara.
"Sekarang pohon mangrove berdiameter 20 sentimeter sudah ditebangi untuk perumahan rakyat. Padahal fungsi mangrove penting, termasuk untuk tempat pemijahan ikan. Jika tempat ini hilang, maka nelayan akan kesulitan mendapat ikan," katanya.
Menurut Rakhmadi, kerusakan ini terjadi di titik-titik (spot) tertentu, mulai dari Tanah Laut, Kota Baru, dan Tanah Bumbu. Oleh karena itu, dalam waktu dekat perlu segera dilakukan pemetaan wilayah yang lebih detil. Tujuannya agar bisa diantisipasi secepatnya oleh pihak terkait.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang