4 Konflik yang Ditakuti Pria

Kompas.com - 29/04/2010, 15:11 WIB

KOMPAS.com - Pria ternyata takut jika harus bertengkar dengan pasangannya. Yang dimaksud pertengkaran di sini adalah yang disebabkan oleh perbedaan pandangan dalam hubungan mereka, bukan karena sesuatu yang menjadi kesalahan pria tersebut.

Pria cenderung menghindar ketika "ditantang" berargumen dengan pasangannya, meskipun biasanya ia akan memenangkannya. Namun, jika tidak ditantang, sebenarnya pria enggan mendebatkan hal-hal tidak penting. Bertengkar, buat mereka, hanya membuang waktu. Karena itu, sebisa mungkin mereka menghindari konflik, terutama konflik yang berkaitan dengan:

Gadget
Banyak pasangan yang lebih suka terpaku pada ponselnya masing-masing saat sedang berkencan. Bila hal itu yang terjadi, mungkin masing-masing pihak tak akan terlalu dikecewakan. Berbeda halnya bila si dia lebih suka memelototi perangkatnya daripada memperhatikan Anda. Pasti Anda merasa tidak dihargai.

Pria memang merasa didorong untuk sukses, untuk menjadi seseorang yang diandalkan, dan untuk terlibat dalam segala hal penting yang terjadi. Ketika Anda menegurnya, mengatakan bahwa seharusnya ia memperhatikan Anda sebanyak ia mengamati benda kesayangannya, ia pasti langsung mundur. Hal ini karena ia lebih baik membuat pilihan antara yang benar dan salah, daripada memilih dua hal yang sama-sama penting (Anda dan Blackberry-nya), namun sebenarnya berbeda.

Mantan
Perempuan memang paling bawel soal ini. Selaluuu... saja ingin tahu seperti apa mantan kekasih pasangannya, apa pekerjaannya, mengapa si dia dulu jatuh cinta dengannya, sampai apa yang membuat mereka berpisah. Sebaliknya, si dia enggan membuka mulut.

Dua sikap yang berbeda inilah yang memicu pertengkaran. Dalam hal ini, tampaknya pria jauh lebih mengerti mengenai diri Anda daripada Anda sendiri. Kalau ia mengatakan sesuatu hal yang positif mengenai mantannya, ia khawatir Anda akan membanding-bandingkan diri. Sedangkan jika ia menyampaikan sesuatu yang negatif, ia takut Anda akan menganggapnya tidak sportif, atau tidak ksatria. Yang lebih penting, Anda akan berpikir mengapa dulu ia memilih kekasih seperti itu.

Pendek kata, apapun jawaban si dia, Anda tak akan puas mendengarnya. Atau seperti kata Jack Nicholson pada Tom Cruise dalam film A Few Good Men, "You can't handle the truth!". Anda pasti tak bisa menerima kenyataan dari apapun jawaban si dia.

Perpisahan
Ketika perpisahan terjadi, pria tidak akan menanggapinya dengan teriakan, tangisan, hinaan, dan hal-hal lain seperti yang dilakukan perempuan. Meskipun hubungan si dia dengan mantannya dulu sama sekali tidak berhasil, ia tidak ingin mengakhirinya dengan cara yang tidak menyenangkan. Hal ini disebabkan karena ia tak mau dianggap sebagai pria brengsek, kasar, atau tidak bertanggung jawab. 

Meskipun pria lah yang menginginkan perpisahan, umumnya mereka tidak ingin hal itu menjadi perpisahan yang buruk. Tentu saja, hal ini tidak terjadi pada pria yang memang punya perangai kurang baik, seperti memiliki banyak kekasih atau senang berbohong.

Pernikahan
Yang dimaksud bukanlah mengapa si dia tak juga menikahi Anda, tetapi karena Anda berharap ia terlibat dalam segala persiapan pernikahan Anda berdua. Dari yang sifatnya "penting" (siapa yang diundang), hingga yang "remeh-temeh" (apa warna taplak mejanya). Ia tahu, "Terserah kamu" bukan jawaban yang Anda inginkan, tetapi ia juga lelah mendengarkan semua hal yang sifatnya detail. Dan, pria memang tidak mampu memikirkan hal-hal yang jelimet dan ribet seperti ini.

Perlu Anda ketahui, sikapnya yang tanpa perlawanan ini bukan karena ia tidak tertarik dengan pernikahan itu sendiri, melainkan karena ia menghargai bahwa pernikahan ini adalah momen penting untuk Anda. Jadi, lakukan saja apa yang Anda mau, dan nikmati.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau