Seks atau Cinta?

Kompas.com - 30/04/2010, 08:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gadis ini menganggap bahwa melakukan hubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya bukan berarti tidak mencintai pasangannya. Baginya, seks dan cinta tidak ada kaitannya. “Apakah saya tidak normal?” tanyanya.

“Saya seorang gadis berumur 28 tahun. Sejak mahasiswa saya sudah melakukan hubungan seks dengan pacar. Terus terang, saya senang melakukan hubungan seks dan sangat menikmatinya. Masalahnya, mengapa saya tidak menganggap hanya dengan pacar saya boleh melakukannya?

Saya pernah melakukan hubungan seks dengan teman saya. Saya menikmatinya juga, tetapi saya tidak merasa cinta atau terikat kepada mereka. Saya merasa tetap cinta kepada pacar saya.

Pacar saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Saya juga tidak tahu apakah pacar melakukan hubungan seks dengan wanita lain. Saya tidak menganggap bahwa cinta kepada pacar atau suami artinya tidak boleh melakukan hubungan seks dengan orang lain.

Saya sering mendengar teman cewek saya bilang kalau pernah berhubungan seks dengan cowok lain, artinya tidak cinta kepada pacar. Apa betul cinta cuma diukur dengan tidak melakukan hubungan seks dengan orang lain? Apakah kalau pernah melakukan hubungan seks dengan orang lain, kita tidak bisa jadi pacar atau istri yang penuh cinta?

Saya sering mendengar atau pernah tahu sendiri, pria beristri melakukan hubungan seks dengan wanita lain. Lalu, mengapa hidup rumah tangga dengan istrinya tetap bahagia dan rukun? Bukankah itu berarti pria itu tetap mencintai istri dan keluarganya? Kalau sebaliknya, wanita yang melakukan itu, bukankah juga bisa tetap rukun dan bahagia dengan suaminya?

Tolong dijelaskan apakah yang saya lakukan dan pendapat saya ini benar? Apakah saya yang tidak normal?”  

EN, Surabaya

Pasangan tidak tahu
Contoh yang Anda berikan mengenai pria yang melakukan hubungan seksual dengan wanita lain perlu direnungkan lebih jauh.

Mungkin benar Anda menyaksikan suami istri tetap rukun dan bahagia walaupun sang suami melakukan hubungan seksual dengan wanita lain. Namun, Anda tidak tahu, apakah sang istri mengetahui atau tidak perbuatan suaminya. Reaksi pasti berbeda kalau istri mengetahui dengan tidak mengetahui perbuatan yang dilakukan sang suami.

Mungkin saja yang Anda saksikan itu kebetulan sang istri tidak mengetahui perbuatan suaminya. Meski begitu, jangan lupa, tidak sedikit istri yang merasa terganggu ketika mengetahui suaminya melakukan hubungan seksual dengan wanita lain.

Memang sebagian istri dan suami mengetahui pasangannya telah melakukan hubungan seksual dengan orang lain, tetapi mereka menerimanya sebagai sebuah kenyataan. Karena itu, mereka merasa tidak terganggu sepanjang aspek yang lain dalam kehidupan suami istri tidak terganggu.  

Sama juga dengan apa yang Anda lakukan. Kalau pacar Anda mengetahui Anda telah melakukan hubungan seksual dengan pria lain, belum tentu dia tidak terganggu. Boleh jadi dia akan marah, bahkan mungkin memutuskan hubungan pacaran dengan Anda.

Meski demikian, bukan tidak mungkin dia menganggap itu hanya kesalahan biasa yang harus dimaafkan atau menganggap hubungan seks tidak berarti cinta. Namun, saya yakin, Anda cenderung tidak akan berterus terang kepada pacar Anda mengenai perbuatan Anda ini.

Lebih dalam
Anggapan Anda bahwa hubungan seks tidak berarti cinta, saya pikir tidak salah. Memang benar dorongan seksual tidak sama dengan perasaan cinta kepada seseorang. Artinya, hubungan seksual dapat dilakukan tanpa harus dilandasi perasaan cinta.

Dalam hubungan seksual, faktor yang utama ialah dorongan seksual. Namun, jangan lupa, dorongan seksual dipengaruhi olah beberapa faktor, termasuk faktor psikis.
Rasa cinta, rasa tertarik secara fisik, dan rasa senang karena ada persamaan tertentu merupakan contoh faktor psikis yang memengaruhi dorongan seksual. Berarti, kalau Anda tertarik secara fisik kepada seorang pria, dorongan seksual Anda muncul dan ingin melakukan hubungan seksual.

Jadi, memang bukan semata-mata karena cinta orang mau melakukan hubungan seksual. Bila disertai keterlibatan cinta kepada pasangan, kepuasan dalam hubungan seksual akan dirasa lebih dalam.

Dengan penjelasan ini, saya tak ingin mengatakan Anda ”tidak normal”. Saya pikir Anda normal saja seperti orang lain, tetapi punya pengertian dan persepsi tentang seks dan cinta yang berbeda dengan teman Anda. Di pihak lain, pasti ada orang lain yang mempunyai pengertian dan persepsi yang sama dengan Anda.

Masalahnya, hubungan seksual dengan banyak pasangan tergolong hubungan seksual berisiko tinggi bagi penularan penyakit melalui hubungan seksual. Jadi, Anda mesti menyadari risiko ini. Karena itu, berhati-hatilah. @  

Konsultasi Dijawab Prof Dr Wimpie Pangkahila Sp. And

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau