Diskriminasi

Diklat HAM bagi Waria Dibubarkan Ormas

Kompas.com - 01/05/2010, 04:33 WIB

Jakarta, Kompas - Acara pendidikan dan pelatihan hukum dan hak asasi manusia untuk waria, yang diadakan Komnas HAM dan Forum Komunikasi Waria, dibubarkan sekelompok orang yang mengatasnamakan salah satu ormas, Jumat (30/4) sekitar pukul 10.30 di Depok.

”Kami akan rehat sejenak ketika saya melihat banyak polisi berjaga di sekitar ruang gedung pertemuan. Firasat saya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Segera saya minta para peserta membawa makanan dan minuman mereka ke dalam dan beristirahat di dalam ruangan. Benar saja, tidak lama kemudian, ada belasan orang yang menyerbu masuk ke dalam ruangan dan melemparkan piring dan cangkir,” ucap Ketua Forum Komunikasi Waria DKI Jakarta Nancy Iskandar dalam keterangan pers di Komnas HAM.

Akibat serbuan itu, 26 peserta yang berasal dari 24 provinsi itu segera kabur menyelamatkan diri. Seruni, salah seorang peserta, mendapatkan luka di tangan akibat tergores pecahan kaca dari cangkir dan piring.

Nancy juga menyayangkan kata-kata kasar yang dilontarkan para demonstran saat menyerbu masuk ke ruangan acara. Kata- kata itu, menurut Nancy, menusuk perasaan para waria peserta acara itu dan tidak selayaknya diucapkan.

Dibatalkan

Acara pelatihan yang sedianya diadakan hingga hari Minggu besok akhirnya dibatalkan. Padahal, para peserta kegiatan ini akan menjadi duta untuk meneruskan materi yang mereka dapat kepada rekan-rekan mereka di provinsi masing-masing.

”Kami tidak bisa mendapatkan pendidikan hukum yang sedianya berguna untuk bekal kami dan akan kami tularkan kepada teman-teman di daerah,” kata Nadin, salah satu peserta pelatihan yang berasal dari Kalimantan Timur.

Monalisa, peserta asal Papua, juga menyesalkan diskriminasi sikap terhadap para waria untuk mendapat pendidikan. ”Orang masih memandang waria sebelah mata. Hak kami untuk mendapatkan pendidikan tidak diberikan. Kami sayangkan hal ini,” ucap Monalisa.

Ia membantah jika acara ini digelar sebagai bentuk kontes kecantikan bagi para waria. Dalam salah satu agenda pelatihan yang berlangsung selama tiga hari itu ada pemilihan duta waria. Pemilihan duta waria dimaksudkan untuk memberikan pelatihan di provinsi mereka masing- masing.

Para peserta pelatihan juga menyayangkan aparat keamanan yang tidak mencegah demonstran yang membubarkan acara ini. Ketua Komnas HAM Ifdal Kasi, juga menyayangkan kejadian itu. Apalagi, pelatihan tersebut merupakan kegiatan resmi dan sudah dilaporkan kepada kepolisian setempat.

Dari kepolisian, juru bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar menyatakan, polisi sampai kemarin sore belum menangkap atau memeriksa pihak yang menyerbu acara itu. ”Bapak Kapolres akan mengeliminasi kejadian tersebut dan mengomunikasikan kepada pihak-pihak terkait,” ujarnya.

Ia mengimbau semua pihak agar mencegah tindakan kekerasan dan menggantinya dengan musyawarah. (TRI/ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau