Manchester, Jumat
Target menembus empat besar klasemen, yang juga tiket tampil di Liga Champions musim depan, menjadi obsesi sekelompok saudagar Uni Emirat Arab, pemilik Manchester City, sejak awal musim ini melalui belanja pemain besar-besaran. Peluang itu masih terbuka kendati City kini di urutan keenam (nilai 63) karena hanya terpaut satu poin di bawah tim peringkat keempat Tottenham Hotspur (nilai 64).
Apalagi, bersama Tottenham, City memiliki tabungan satu laga dibandingkan dua rivalnya, Aston Villa (nilai 64) dan Liverpool (nilai 62). Mancini menyebut laga lawan Villa bak ”semifinal”, yang harus dimenangi sebelum ”final” melawan Tottenham, 5 Mei.
”Kami harus memukul Aston Villa,” tegas pelatih asal Italia itu. ”Jika memenangi laga kandang, kami unggul enam poin di atas mereka (tim-tim lawan).” Namun, performa City belakangan ini tak semengilap Villa yang menang dalam tiga laga terakhir.
City gigit jari saat menjamu Manchester United, yang memukul 0-1 melalui gol Paul Scholes pada waktu tambahan (injury time). Mereka hanya membawa pulang satu poin dari kandang Arsenal. Namun, problem terberat adalah perseteruan Mancini dan Tevez terkait metode latihan.
Dalam wawancara baru-baru ini, Tevez mempertanyakan porsi latihan dua kali sehari yang membuat pemain keletihan dan mengungkit kebijakan klub yang mengganti Mark Hughes dengan Mancini. Saking marahnya, Mancini melontarkan, ”Jika pemain top tidak kerasan tinggal di sini, lebih baik pergi ke klub lain.”
Tevez adalah pencetak gol terbanyak City musim ini (22 gol). Bisa dibayangkan efek bagi City jika ia merespons ucapan Mancini dengan permainan tak maksimal. Soal krisis kiper akibat cedera Shay Given, City merekrut kiper Sunderland, Marton Fulop.
Tottenham, yang menjamu Bolton, bertekad menang untuk bertahan di empat besar.