Pascakasus Koja, Sheza-Shezi Kian Sayang Papa

Kompas.com - 01/05/2010, 07:00 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com —- Duo pesinetron bersaudara, Sheza dan Shezi Idris, mengaku makin menyayangi ayahnya, Idris Priyatna, yang luput dari amuk massa dalam kerusuhan yang terjadi di kawasan makam Mbah Priuk di Koja, Tanjung Priok, beberapa waktu lalu.

"Kami jadi lebih sayang sama orangtua, betapa berharganya orangtua," ujar Sheza saat ditemui di Terminal 2 E Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (30/4/2010). 

Sheza dan Shezi tak henti-hentinya mengucap syukur atas keselamatan yang masih diberikan-Nya kepada sang ayah. "Kami bersyukur banget dari tragedi kemarin Papa selamat dari musibah. Kami sujud syukur (Papa) masih bisa sama-sama kami," kata Sheza

Seperti diketahui, ayah Sheza dan Shezi adalah Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Pusat yang ikut bertugas saat aksi tersebut berlangsung.  "Panik banget soalnya waktu itu Papa benar-benar ada di tengah-tengah massa, takut Papa dipukilin," ujar Sheza. "Waktu itu kami cuma bisa berdoa untuk keselamatan Papa," sambungnya. 

Pasca-kejadian tersebut, Sheza dan Shezi hanya bisa berharap semoga kejadian yang  menelan korban cukup banyak dari pihak Satpol PP dan warga tersebut tak terulang lagi. "Kami berdua berharap tak ada lagi peristiwa seperti itu dan mau belajar dari kejadian tersebut," katanya.     (FAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau