Anak penjual pecel

Dina Peringkat Satu IPS Bisa Tak Kuliah

Kompas.com - 02/05/2010, 20:56 WIB

JEMBER, KOMPAS.com — Peraih nilai tertinggi ujian nasional tingkat SMA se-Jawa Timur, Dina Bakti Pertiwi, membutuhkan uluran tangan agar dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena keterbatasan biaya.

"Saya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi negeri, tetapi tidak memiliki biaya," kata Dina di Jember, Minggu (2/5/2010).

Siswa SMA Negeri 1 Jember jurusan IPS tersebut tidak percaya dengan nilai UN yang diraihnya, 54,75. Ini menjadi nilai tertinggi untuk SMA jurusan IPS di Jatim.

Ia mengaku sudah mendapat banyak tawaran dari sejumlah donatur perseorangan dan lembaga yang sanggup membiayai kuliahnya selama beberapa tahun. Namun, ia belum memutuskan untuk memilih yang mana.

Bahkan, Universitas Brawijaya Malang sudah menawarkan beasiswa apabila Dina lolos seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri di perguruan tinggi itu.

"Ada beberapa perguruan tinggi swasta di Surabaya dan Malang yang juga menawarkan beasiswa, asalkan saya bersedia kuliah di sana," paparnya.

Dina mengaku ingin kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) di Jakarta sehingga harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mengikuti ujian STAN yang akan digelar pada 20 Juni mendatang.

"Saat ini saya ikut bimbingan belajar di salah satu lembaga pendidikan di Jember demi mencapai keinginan saya melanjutkan pendidikan di STAN. Biaya ikut bimbingan belajar saya dapat dari donatur juga," katanya.

Penghasilan ibu Dina sebagai penjual nasi pecel tentu tidak cukup untuk membiayai Dina mengikuti sejumlah bimbingan belajar di Jember.

"Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan para donatur yang sudah membantu saya sehingga bisa ikut bimbingan belajar. Saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk mengikuti ujian di STAN," paparnya.

Siswi berprestasi asal Jember tersebut ingin diterima di STAN agar dapat membantu meringankan beban ibunya dan menyekolahkan adik-adiknya.

"Ayah sudah tidak ada sehingga ibu harus membanting tulang untuk menyekolahkan saya dan dua adik saya. Saya tidak ingin membebani ibu dengan biaya kuliah yang begitu besar," kata anak ketiga dari lima bersaudara ini.

Anak pasangan M Syafi’ (alm) dan Tri Hartini tersebut memiliki cita-cita sebagai seorang akuntan yang hebat sehingga dia berjuang dengan gigih untuk mewujudkan semua itu.

"Mudah-mudahan impian saya untuk lolos ujian di STAN dapat terwujud. Saya harus rajin belajar dan berdoa kepada Allah SWT," kata siswi yang gemar shalat tahajud bersama ibunya itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau