Kepala Dinas Pendidikan Sumut Bahrumsyah menjelaskan, sebenarnya jumlah guru di Sumut sangat memadai. Namun, karena distribusinya tidak merata itulah, banyak daerah kekurangan guru.
”Guru-guru lebih suka ke kota, seperti Medan, Deli Serdang, dan Binjai, karena fasilitas dan gajinya lebih menjanjikan. Akibatnya, guru menumpuk di kota,” kata Bahrumsyah di Medan, Minggu (2/5).
Distribusi guru tersebut, lanjutnya, sulit dikendalikan karena Pemerintah Provinsi Sumut tidak lagi memiliki kewenangan atas penempatan kerja para guru itu. Alasannya, sejak otonomi daerah diberlakukan, tenaga guru berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten/kota.
Salah satu dampak ketidakmerataan guru tersebut, ungkap Bahrumsyah, adalah banyaknya siswa yang tidak lulus ujian nasional di daerah-daerah terpencil. ”Di daerah-daerah terpencil itu, masih ada sekolah yang tidak memiliki guru mata pelajaran Kimia atau Fisika. Padahal, di kota, satu sekolah bisa memiliki lebih dari satu guru Kimia atau Fisika,” ujarnya.
Saat ini, kata Bahrumsyah, Dinas Pendidikan Provinsi Sumut berupaya meratakan penyebaran guru itu. Caranya, antara lain, dengan merekrut guru-guru langsung dari daerah terkait.
Penempatannya pun perlu berkoordinasi dengan Pemprov Sumut, bukan antarkabupaten/ kota. Ini disebabkan Pemprov Sumutlah yang mengetahui daerah mana yang kekurangan atau kelebihan guru.
Kedua, di daerah yang selama ini kekurangan guru, harus dibangun perumahan untuk guru. Fasilitas lainnya perlu diperbaiki dan gajinya dinaikkan. Ini dilakukan untuk merangsang agar guru betah berada di daerah tanpa harus pindah ke kota.
Ketiga, pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota sendiri harus memprioritaskan pendanaan bagi guru di daerah. ”Kalau distribusi guru merata, pengembangan pendidikan juga lebih merata,” ujar Bahrumsyah.
Sebelumnya, Rektor Universitas Negeri Medan Syawal Gultom mengungkapkan, sebanyak 58,35 persen dari 206.821 guru tingkat taman kanak-kanak (TK) sampai sekolah menengah atas (SMA) di Sumut belum lulus jenjang pendidikan strata satu (S-1). Hanya 0,45 persen atau 940 guru yang berijazah S-2 dan sisanya lulus S-1.
Kondisi tersebut menjadi ancaman serius mengingat pada periode 2010-1015 sebanyak 300.000 guru di Indonesia memasuki masa pensiun. Dalam kurun waktu itu, Sumut membutuhkan 16.671 guru baru.
”Untuk tahun ini saja butuh 2.684 guru,” ungkap Syawal. (MHF)