Magelang, Kompas - Sebanyak 768 anak di Kabupaten Magelang putus sekolah saat menempuh pendidikan di SMP dan SMA. Selain karena alasan kesehatan, kondisi ini terjadi karena faktor ekonomi dan kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan.
"Di lingkup masyarakat pedesaan, masih banyak siswa yang berhenti bersekolah dengan alasan ingin membantu orangtuanya bertani atau beralasan menikah," ujar Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Fasilitator Pendidikan Tinggi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Magelang Haryono, Senin (3/5).
Pada tahun 2009, jumlah siswa yang putus sekolah di SMP mencapai 520 anak dan di SMA 248 anak. Untuk tingkat SD, jumlah siswa putus sekolah terdata 212 anak.
Di tingkat SMP dan SMA, menurut Haryono, kegagalan menuntaskan pendidikan terutama terjadi saat kelas 1 dan kelas 2. Ketika sudah duduk di bangku kelas 3, para wali murid sendiri biasanya akan berupaya agar anaknya dapat meneruskan sekolah karena di tahun yang sama mereka akan menempuh ujian kelulusan.
Angka partisipasi kasar (APK) atau persentase siswa yang melanjutkan ke SMA juga masih terbilang rendah, hanya 49,35 persen. Angka ini jauh di bawah APK SMP dan SD yang mencapai 96,60 persen dan 108,22 persen.
Selain karena masih terkendala ekonomi dan kurangnya kesadaran, Haryono mengatakan, hal ini disebabkan karena setelah lepas SMP, masyarakat Kabupaten Magelang biasanya lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di Kota Magelang.
Hal ini terbukti karena di beberapa sekolah favorit di Kota Magelang, sekitar 80 persen muridnya justru berasal dari Kabupaten Magelang. "Mungkin hal ini terjadi karena mereka menganggap pendidikan di kota lebih bergengsi dan bermutu," ujarnya.
FX Sutar, salah seorang pengurus gereja Gubuk Selo Merapi (GSPi) di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, mengatakan, mayoritas dari 174 kepala keluarga umat GSPi hanya menyekolahkan putra putrinya hingga jenjang SMP.
Hal ini terjadi karena seluruh kepala keluarga yang semuanya petani sayuran ini sering mengalami kesulitan keuangan karena hasil panen yang tidak menentu. (EGI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang