Guru TK Sepuh Desa Kemulan (Bagian I)

Kompas.com - 04/05/2010, 17:29 WIB

KOMPAS.com — Turining (72), guru TK yang akrab disapa Ibu Guru Ning, mungkin sulit merasakan pensiun. Masyarakat masih membutuhkannya menghidupkan TK pertama yang dibangunnya di Desa Kemulan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Jika sepintas bertemu, ibu dua putri dan nenek dua cucu ini masih terlihat segar. Lebih muda dibandingkan perempuan seusianya. Bahkan, berlama-lama berbincang dengan perempuan berumur ini masih menyenangkan. Daya ingatnya masih tajam, dan semangatnya tak kalah dengan anak muda.

Aktivitasnya tak berubah sejak 1974, mengajar di TK Dharma Wanita Desa Kemulan. Tak hanya sebagai guru, perempuan sepuh ini juga berperan sebagai pengurus sekolah, merangkap kepala sekolah.

"Terpikir untuk berhenti karena usia sudah tua, ingin di rumah saja, istirahat. Malu sudah tua kok masih kerja, terkesan cari uang terus. Padahal, kalau dilihat gaji ya tidak seberapa, Rp 150.000 sebulan. Tetapi kalau dipikir lagi, berhenti mengajar kok ndak enak. Saya senang mengajar, senang anak-anak, kalau ada guru yang ndak datang, saya masuk kelas untuk menggantikan mengajar. Tetapi kalau lari (olahraga) saya ndak kuat lagi," kisahnya bersemangat kepada Kompas Female saat ditemui di kediamannya, April lalu.

TK pertama di Desa Kemulan didirikan atas inisiatif kepala desanya, yang tak lain adalah paman dari Turining. Melihat Ning memiliki pengalaman dan latar belakang pendidikan guru TK (SGTK), kepala desa memintanya mengelola TK Dharma Wanita.

Tepat pada 17 Februari 1974, TK ini resmi dibentuk, meski belum memiliki gedung permanen. Balai desa sementara waktu digunakan sebagai sekolah untuk anak usia dini tersebut. Meski begitu, orangtua tetap bersemangat mendaftarkan anaknya. Jumlah murid pada tahap awal ini 40 orang, dan diajarkan oleh dua guru saja.

Dua tahun bersekolah nomaden, akhirnya pada 1976 gedung TK resmi dibangun berlokasi di samping balai desa, berdekatan dengan puskesmas. Jumlah murid meningkat dua kali lipat. Pertanda bahwa pendidikan usia dini dibutuhkan oleh desa yang berjarak satu jam berkendara dari Kota Malang ini.

"SPP saat itu Rp 100, dan honor guru Rp 3.000. Meski begitu, masih banyak orangtua siswa yang tidak membayar. Sampai hari ini pun masih ada beberapa murid yang bebas biaya pendidikan karena kondisi keluarga memang tidak mampu membayar uang sekolah," kata guru sepuh ini. Katanya, setelah tiga dekade, SPP saat ini Rp 10.000, sedangkan uang pendaftaran Rp 5.000 ditambah biaya untuk seragam Rp 250.000.

Sekolah TK atas nama perkumpulan istri aparat desa ini juga membebaskan biaya sekolah bagi anak dari keluarga tidak mampu. Namun, untuk menetapkan kebijakan ini, Ning perlu berdiskusi dengan guru lain, meminta persetujuan untuk membebaskan biaya sekolah anak. Bagaimanapun, guru yang bertugas di desa ini mendapat gaji dari iuran pendidikan muridnya. Jika harus ada yang dibebaskan biaya sekolah, tentu atas keikhlasan dari para gurunya.

"Anak-anak harus belajar dan sekolah, anak desa harus sama seperti anak dari kota, semua harus bersekolah," tegas perempuan yang selalu ditegur sapa dengan sebutan ibu guru, atau mbah oleh murid yang adalah anak dari mantan muridnya dahulu.

Dengan penuh bangga, Turining berkisah prestasi murid-muridnya. Ada yang menang sebagai juara II lomba drama Pancasila tingkat Kabupaten Malang. Semangat anak desa ini mengalahkan TK yang lengkap dengan fasilitas dari berbagai kecamatan.

Tak hanya anak yang bersemangat, para orangtua juga mendukung aktivitas pendidikan di taman kanak-kanak ini. Kebersamaan inilah yang membuat prestasi anak dan TK Dharma Wanita melonjak dibanding TK lain. Bahkan, penduduk setempat masih memilih TK ini sebagai tempat belajar sang buah hati meski sudah mulai bermunculan TK lain dengan berbagai kelengkapan fasilitasnya.

Bagi perempuan kelahiran 7 April 1938 ini, menyenangkan hatinya jika anak didikannya bisa maju dan berkembang. Dari TK sederhana ini muncul anak-anak yang bersemangat membangun masa depannya. Ada yang menjadi kepala desa, dosen, mengejar pendidikan S-2 hingga ke luar negeri, dan ada yang kini bersekolah di Jerman dengan menggenggam beasiswa. Bagi Turining, prestasi ini menjadi kebanggaan sekaligus cita-citanya untuk membawa anak-anak desa berkembang dengan pendidikannya.

Konsep pendidikan yang dibangunnya juga mengedepankan kebutuhan anak-anak. Berbekal kurikulum dari dinas pendidikan, Turining lebih menekankan prinsip belajar sambil bermain. Baginya, anak usia dini belum waktunya dibebani pelajaran berat. Anak-anak harus banyak bermain, tegasnya. Selain pendidikan karakter yang dikedepankan untuk membangun perilaku positif dalam diri anak.

"Anak dibuat senang bersekolah, dengan bermain sambil belajar. Agar anak senang, harus ada pendekatan dari guru. Guru juga menyayangi anak seperti anak sendiri dalam proses belajar sehingga menumbuhkan rasa sayang," ujarnya.

Kelembutan guru seperti inilah yang membuat sejumlah murid selalu datang menjemput di pagi hari. Maklum, rumah Turining hanya berjarak beberapa meter saja dari TK. Guru yang selalu merendahkan suaranya di depan anak-anak ini menjadi idola anak kecil di desanya.

Ajarannya tentang etika, seperti menjaga perilaku dan kesopanan, mengendap dalam diri muridnya. Karena baginya, perilaku lebih penting dimiliki seorang anak. Soal kepintaran, itu bisa dilatih melalui proses belajar, tegasnya.

(Bersambung)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau