40 Luwak Dikerahkan Produksi Kopi Andal

Kompas.com - 05/05/2010, 09:53 WIB

LIWA, KOMPAS.com - Dinas Perkebunan Provinsi Lampung akan mengembangkan budi daya kopi luwak (musang) yakni biji kopi hasil fermentasi dari perut binatang tersebut.

"Lokasi untuk budi daya kopi itu direncanakan di Lampung Barat," kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung, Edi Yanto, saat mendampingi anggota Komisi II DPRD Lampung, mengunjungi Pusat Penyuluhan dan Pengembangan Kopi (P3K) AEKI Lampung, di Liwa, Rabu (5/5/2010).

Ia menyebutkan, kopi luwak selain memiliki cita rasa yang unik juga harga di pasaran cukup mahal. Kopi hasil fermentasi itu sangat istimewa karena kekhasan proses, kelangkaan dan cita rasa yang unik yang tidak ditemui dalam kopi jenis lainnya.

Kopi luwak menurut dia, memiliki rasa seimbang, antara manis, pahit dan asam, terasa lebih lama (after taste).

Selain itu kandungan protein yang rendah pada kopi luwak menghasilkan cita rasa yang superior. Itu terjadi karena saat proses pencernaan di perut luwak, protein tercerna dan keluar dari biji kopi.

"Jenis kopi robusta yang ada di daerah itu akan dijadikan makanan luwak," katanya.

Menurut dia, pihaknya akan menyiapkan sebanyak 40 ekor luwak untuk dipelihara di perkebunan kopi di Lampung Barat.

Pemeliharaan musang (luwak) juga memerlukan perhatian yang cukup ekstra yakni dengan memberikan makanan berupa ayam dan buah pepaya setiap hari.

Menurut Edi, dana yang dibutuhkan untuk budidaya kopi luwak sebanyak Rp 307 juta yang berasal dari APBD Lampung 2010.

Sebelum melakukan pengembangan budidaya kopi luwak kata dia pihaknya akan melakukan studi banding ke tempat budidaya kopi luwak yang ada seperti di PTPN XII.

"Harga kopi luwak di pasaran mencapai di atas Rp 3 juta/kilogram, bahkan di Singapura harga secangkir kopi luwak Rp 500 ribu," kata Edi.

Sementara itu, rombongan Komisi II DPRD Lampung, Junaidi Auli (ketua Komisi II/PKS), Sekretaris Komisi II Wardiati (PKPB), Riswansyah Djahri (Hanura), Palgunadi (PDIP), Nursalim (PKS), Nurzaini (PKB), Doni Irawan (PAN), Tulus Purnomo (PDIP), dan Sugiyarto (Demokrat).

Mereka juga mengunjungi budidya kopi luwak jenis robusta di Lampung Barat.

Provinsi Lampung sendiri merupakan penghasil terbesar kopi robusta di Tanah Air dengan rata-rata produksi sekitar 150.000 ton/tahun, dengan luas areal sekitar 163.000 hektare dan petani yang bekerja di sektor itu sebanyak 230 ribu kepala kelauarga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau